by : Indra Harsaputra/The Jakarta Post/Malang
Gunung Kawi, sebuah lokasi wisata ikon kota Malang yang dipercaya membawa berkah memang selalu membawa keberuntungan. Anda tidak percaya ?
Seorang rekan, penghobi mobil Volkswagen, yang cukup lama tinggal di Malang mengirimkan pesan singkat via seluler.
"Anda akan menjadi orang yang tidak beruntung bila ke Malang tidak mampir ke Gunung Kawi, apalagi nanti malam itu Jumat Legi."
Gunung Kawi memang selama ini dipercaya membawa berkah. Siapa saja yang datang ke tempat itu, berharap segala usahnya, bisnis dan perjodohan dapat mengalir dengan mulus. Para politikus yang berambisi menjabat sebagai kepala daerah juga seringkali menggelar hajatan ke Gunung Kawi. 
Mertua saya, misalnya, yang tinggal di Kediri Jawa Timur keturunan Tionghwa. Mereka sangat percaya dengan Gunung Kawi yang memang membawa keberuntungan dalam berbisnis. Bisnis mertua memang lancar begitu ia pulang dari ritual di Gunung Kawi, gunung yang tingginya kurang lebih 800 meter dan berada di desa Wonosari Kecamatan Wonosari Malang Jawa Timur itu.
Namun itu dulu. Kini mertua memilih menjadi seorang Moslem khusuk. Usaha toko yang menjual kebutuhan rumah tangga tidak lagi sebesar yang dulu. Bukan berarti lantas ia tidak pernah lagi ke Gunung Kawi, tetapi memang karena umurnya telah lanjut apalagi keempat anak-anaknya enggan meneruskan usahanya itu dan memilik berkarier di bidang perbankan.
Sejak tahun 1910, banyak orang keturunan Tionghoa yang "ngalap rejeki" di Gunung Kawi. Ong Hok Liong, pendiri pabrik rokok Bentoel di Malang juga sering berkunjung di Gunung Kawi.
Ia sering mengajak istrinya Liem Kiem Kwie Nio untuk bersemedi di dua makam Mbah Jugo dan Mbah Imam Sujono yang dikenal keramat di Gunung Kawi.
Sebenarnya, kedua tokoh itu bukanlah seorang keturunan Tionghwa, namun merupakan 2 dari 75 pengikut Pangeran Dipenogoro yang melarikan diri ke Malang pasca penangkapan Pangeran Dipenogoro oleh Kolonel Du Perron dan Mayor Michiels atas perintah Jenderal de Kock pada 26 Maret 1830.
Dari Magelang, Pangeran Dipenogoro sendiri kemudian Batavia setelah itu di Menado dan terakhir diasingkan di Makassar hingga akhir hayatnya pada 8 Januari 1855.
Ketika di Malang yang saat itu masih masuk dalam karasidenan Pasuruan, Mbah Jugo dan Mbah Imam Sujono bersama rekan-rekannya tidak melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda, malah menyiarkan agama Islam.
Prasasti di Pasarean Gunung Kawi yang bertuliskan dalam bahasa Jawa dan satu lagi bertuliskan tulisan latin menceritakan aktifitas Mbah Jugo dan Mbah Imam Sujono.
Lalu mengapa kedua makam itu menjadi sangat spesial bagi Ong Hok Liong dan beberapa masyarakat keturunan Tionghwa lainya ? Padahal di Jawa Timur sendiri banyak tempat pemakaman penyiar agama Islam.
Pertanyaan itu hingga kini masih misterius. 
Ong, juga mungkin masyarakat Tionghwa lainnya tidak mau ambil pusing soal sejarah itu. Ong tetap percaya memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk beritual di kedua makam itu membawa berkah bagi usaha rokok yang mulai dirintisnya. Apalagi Ong sering mengalami kegagalan dalam memasarkan rokok buatannya yang terus melesu. Mulai dari rokok merek tjap Boeroeng, Kelabang, Kendang, Toerki, Djeroek Manis dan lain-lain.
Usaha Ong tidaklah sia-sia. Suatu malam, saat beritual, Ong bermimpi melihat seorang penjual bentul. Ketika terbangun ia menceritakannya kepada penjaga makam, dan kemudian atas saran dan petunjuk penjaga makam, Ong mengganti produknya dengan nama Bentoel. Tahun 1947, pabrik rokok Bentoel mencapai kesuksesan yang luar biasa.
Hingga kini, rokok Bentoel menjadi produk andalan kota Malang yang produknya diisap oleh ribuan perokok di Indonesia. Bentoel juga menjadi sponsor klub sepak bola Arema Malang kebanggaan kera Ngalam (bahasa Kawilan, dibalik arek Malang).
Keuntungan Penduduk Desa
Ternyata benar juga bunyi pesan singkat rekan tadi. Saya beruntung bisa berkunjung di Gunung Kawi. Meskipun tidak menggelar hajatan, namun saya puas memotret satu per satu kehidupan di malam Jumat Legi di Gunung Kawi.
"Silakan beli bunga Mas, murah kok hanya Rp 2000 saja per bungkusnya, " teriak pedagang bunga bersahutan. Sementara di bagian sisi lain, puluhan pengemis duduk sambil menyodorkan topinya meminta uang kepada pengunjung. 
"Dulu taipan Liem Sioe Liong sering membagikan uang Rp 5000,- kepada siapa saja termasuk para pengemis. Pak Ong juga ketika sukses membangun semua fasilitas di Gunung Kawi dan sering menggelar tanggapan wayang, " kata Munaji (40) warga desa setempat yang menjadi pemandu saya.
Munjadi itu hafal benar seluk beluk areal wisata ritual Gunung Kawi. Ia lahir dan besar di tempat itu. Bahkan, ia sempat menjadi preman yang mencicipi aliran uang yang ada di Gunung Kawi dengan memungut uang keamanan dari pengusaha hotel yang ada di sekitar Gunung Kawi.
Sekarang Munaji telah meninggalkan dunia preman, ia memilih bekerja sebagai penjual bakso Malang di kota Semarang Jawa Tengah 13 tahun lamanya.
Di sekitar Gunung Kawi memang dikenal sebagai kampung para penjual bakso. Mereka tidak saja berjualan di Jawa Timur, namun merantau luar kota dari Jakarta hingga ke Kalimantan. Menurut cerita sebelum penjual bakso ini merantau untuk menjajakan dagangannya, mereka sering meminta restu di kedua makam ini dengan harapan usahanya bisa lancar di tempat yang menjadi perantauannya itu.
Meskipun lama meninggalkan kampung halamannya, namun hampir semua pedagang, yang mayoritas penduduk sekitar Gunung Kawi, mengenalnya. Pantas saja, saya dibebaskan membayar uang parkir kendaraan. Padahal jikau malam Jumat Legi tarif untuk parkir kendaraan bisa dua kali lipat.
Harga itu bisa 10 kali lipat jikau menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sedangkan untuk tarif sewa hotel, ada beberapa hotel yang mematok tarif lebih mahal dibandingkan dengan hotel berbintang kelas I di Jakarta setiap hari raya besar tertentu. Kalaupun hari biasa tarifnya antara Rp 120 ribu sampai Rp 200 ribu.
Meskipun biaya yang dikeluarkan wisatawan tidalah murah, namun tetap saja pengunjung di tempat itu tidak pernah berubah. Gunung Kawi selalu padat pengunjung. 
"Sebagian masyarakat di sekitar Gunung Kawi sangat bergantung kepada Gunung Kawi. Mereka hidup berkecukupan, bahkan menjadi orang kaya dari hasil menjual barang dan jasa, " kata Munaji.
Yayasan Ngesti Gondo, lembaga yang secara resmi menjadi pewaris tanah Pasarean dan berhak menyandang jabatan "pengadeg juru kunci makam", memberikan kesempatan bagi warga desa setempat untuk berdagang di Gunung Kawi.
Bagi mereka yang tidak mempunyai modal untuk membuka usaha, kata Munaji, bisa menjadi guide bahkan preman yang meminta 'pajak keamanan' dari beberapa hotel ataupun usaha lainnya. Sebagai imbalannya, preman itu menjamin keamanan pengunjung hotel.
"Dulu saya bisa mendapatkan uang Rp 5 juta per bulan tanpa harus bekerja apapun. Saya tinggal meminta setoran ke beberapa hotel, " kata Munaji.
Tidak hanya Munaji saja yang mendapatkan cicipan aliran uang disana, Rubaidah (56), petugas dapur yang memasak keperluan selamatan juga mendapatkan rejeki besar di setiap malam Jumat legi dan hari-hari besar lainnya.
"Hari ini saya menggoreng 700 ayam dan 300 kambing. Jumlah ini naik 70 persen dibandingkan hari biasa. Ya, ini memang malam keberuntungan saya karena setelah memasak ini saya akan mendapatkan uang lelah dari pihak pengelola, " katanya yang sudah bekerja di Gunung Kawi belasan tahun lamanya.
Akulturasi
Seperti yang sudah saya katakan, saya memang beruntung bisa berkunjung ke Gunung Kawi. Sebuah berkah tersendiri ketika disana dapat melihat akulturasi budaya China dan Jawa.
Sebelum bertugas menjual dupa untuk sembayangan, Sukirman (50) merias diri dengan busana Jawa. Kemudian ia berlari melayani pengunjung yang hendak melakukan sembayangan di sebuah pendopo.
"Sebagian besar karyawan yang bekerja di sini diwajibkan memakai busana Jawa, " katanya kepada The Jakarta Post. 
Sukirman yang telah bekerja hampir 20 tahun itu mengaku senang melayani semua pengunjung termasuk warga keturunan Tionghwa. Selain mendapatkan gaji dari pihak pengelola, ia banyak menerima angpao dari pengunjung sebagai tanda terima kasih telah melayani dengan baik.
Sukirman pun juga bertugas menjaga api puluhan lilin raksasa, yang harga sebijinya bisa mencapai Rp 35 juta sampai Rp 40 juta. Ia harus menjaga agar api di lilin tetap menyala karena diyakini berkaitan dengan kelangsungan bisnis sang empunya lilin. Jika api itu sampai mati, dipercaya sebagai pertanda matinya bisnisnya.
Jika lilin yang bisa bertahan sampai setahun itu hampir habis, Sukirman menghubungi pemilik lilin untuk mengganti lilin tersebut. Terkadang pemiliknya datang dan mengganti, namun tidak sedikit pula yang cukup mentransfer uang kepada penjaga untuk menggantinya.
"Disini tidak ada diskriminasi suku. Baik itu Jawa ataupun Tionghwa sama saja karena tujuannya cuma satu yaitu berdoa, " katanya.
Suasana percampuran budaya China dan Jawa memang terlihat sejak awal masuk ke lokasi wisata ritual Gunung Kawi. Di gerbang pintu masuk misalnya, desaign gerbang mirip dengan bangunan China dengan bertuliskan tulisan Jawa.
Begitu juga dengan bentuk pendapa persembanyangan, bangunan dibangun modal bangunan Jawa namun penuh dengan aksesori dari China, seperti lampion dan tulisan huruf Tionghwa.
Selain bangunan dengan modifikasi China dan Jawa, suasana di sepanjang jalan mirip dengan kawasan di Pecinan. Banyak restoran, toko barang antik dan aksesori maupun penjual kelontong yang menawarkan barang beraneka ragam khas Jawa dan China.
Ada penjual batu akik, penjual api lilin raksana dan perlengkapan ritual masyarakat Tionghwa. Di sana juga tampak keramaian suara kocokan dan bunyi gemeretak lemparan kartu ciamsi, hiruk pikuk peramal nasib jangka pendek dan suara gamelan Jawa yang mengiringi pagelaran wayang kulit.
Pemerintah daerah kabupaten Malang sendiri berkomitmen melestarikan seluruh budaya yang ada di Gunung Kawi yang menjadi ikon kota Malang. Untuk menarik wisatawan, pemerintah telah mengagendakan gebyar wisata ritual setiap perayaan 1 Muharram.
Salah satu acara atraktif yang ditampilkan adalah pawai kreasi‘ogoh-ogoh’ atau patung yang berbentuk raksasa sebagai simbul keangkaramurkaan. Patung yang dibuat selanjutnya di bakar, namun sebelumnya diarak terlebih dahulu oleh warga dari lapangn desa dan berakhir di makam Gunung Kawi.
Gunung Kawi, Ikon kota Malang yang Membawa Berkah
Tuesday, March 18, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 11:26 PM 3 comments
Labels: Travelling
Mengais Rejeki di Gunung Kawi

Gunung Kawi, gunung dengan tinggi 2,86 meter dari permukaan laut yang terletak di desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur tidak hanya menjadi berkah bagi peziarah yang percaya bisa mendatangkan berkah pesugihan, namun juga menjadi berkah bagi penduduk sekitar. 
Malam Jumat Legi memang selalu ditunggu oleh sebagian orang. Banyak yang percaya, di setiap malam itu, Raden Mas Imam Sujono, selalu mengabulkan setiap permintaan orang yang datang kepadanya. Tidaklah heran, apabila setiap malam itu jumlah pengunjungnya selalu berlimpah. Ini merupakan berkah bagi pedagang dan masyarakat sekitar yang memanfaatkan kunjungan wisatawan itu.
Sepanjang jalan masuk menuju kompleks pemakaman Kyai Zakaria atau lebih dikenal dengan Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Sujono di Gunung Kawi, sejumlah pedagang, baik itu pedagang bunga untuk ritual, makanan ringan, maupun perhiasan ramai menawarkan barang dagangannya. 
Biasanya, pendapatan mereka naik dua kali lipat dibanding hari biasanya. Penjual bunga misalnya, dimana hari biasa hanya memperoleh keuntungan Rp 30 ribu, kini bisa meraup Rp 70 ribu. 
Tidak hanya pedagang, pengemis maupun pengamen pun tidak lupa ikut mencicipi keuntungan dari para tamu.
Monday, March 17, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 2:35 AM 0 comments
Labels: Travelling
Surabayans told to activate email accounts by mid year
Indra Harsaputra
he Jakarta Post/ Surabaya
The Surabaya municipality has announced all persons over the age of 17 must have an email address to apply for identity cards by the middle of the year, as part of the city's aim to become the first multimedia city in Indonesia.
Surabaya Mayor Bambang Dwi Hartono said the insertion of an email address on an identity card was aimed at facilitating the demographic data process, as 90 percent of the city's total population of about 2.7 million have ID cards.
"The new program is just in front of our eyes and the Information Technology and Communications Management Center in Surabaya (BPTIK) is developing it thoroughly now. It is expected to facilitate the ID card issuance process," said Bambang, after signing an agreement on Surabaya's development as a multimedia city with PT Telkom state telecommunications company at Surabaya City Hall recently.
Bambang said the program would also expedite releasing information to residents, such as in the event of disasters floods in the city.
"On top of that, people can also send criticisms and suggestions to the government by e-mail," he added.
Bambang said the administration also planned to produce an ID card which could be used for transactions, similar to an ATM card.
He added the program was also expected to improve people's welfare and alleviate poverty in the city by encouraging those in the lower income brackets to learn to use the Internet as a means to expand their trades.
BPTIK head Najib Usman said only those who had email addresses could include them on their ID cards when the program commenced in the middle of the year, while others would be provided with lessons on using the Internet and email.
"We hope residents, regardless of their income brackets in Surabaya, will be well versed in the Internet. The administration will also subsidize Internet expenses when the free trial contract with Telkom expires, so city residents can still benefit from the Internet cheaply," he said.
Najib said he is confident the program will run smoothly and that using the Internet will be as common as using a mobile phone.
The municipality has established wi-fi networks in a number of areas in the city, such as in Taman Bungkul on Jl. Darmo and Taman Prestasi in Ngagel district.
Internet users can make use of the facilities for free because PT Telkom, an internet service provider, has exempted fees during the trial period, which will last until March.
Communications and Information Minister Muhammad Nuh, also former rector of the 10th November Surabaya Institute of Technology (ITS), said PT Telkom had since November last year installed 33 wi-fi hotspot areas in each city square across the province.
Thanks to a number of companies involved in the corporate social responsibility program, the public can use them for free.
"We hope the whole people of East Java will become well versed in the internet in 2008, and become the first e-province in Indonesia," said Nuh.
Head of the ITS Disaster Study Center Amien Widodo said he hoped people living in disaster-prone areas could benefit from the program.
"We are currently developing a program which could spread information on the risk of natural disasters to residents. This program can be posted via email or text messages," said Nuh.
To educate residents on the Internet, the administration has set up multimedia training centers to provide free lessons to low income people, such as the one in Bojonegoro, built by hardware and software company Microsoft.
There, many have successfully developed their agricultural products and improved their livelihoods after being able to use the internet to find information on their work.
A similar facility is available in the Rungkut residential area in Surabaya
Tuesday, January 8, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 12:05 AM 0 comments
Labels: Travelling
Blitar, A Range of Attractions in East Java
Story by Indra Harsaputra
There are many tourist attractions in Blitar, a city located right at the foot of Mount Kelud, and 167 kilometers from the East Java capital of Surabaya city, so it would be a pity if you miss it.
Apart from the grave of Indonesia’s first President Soekarno, visitors can see a tourism village that sells jimbe drums, a product of Blitar’s home industries that are successfully breaking into export markets. It is better if you cancel any planned tour to Mount Kelud, located on the border between Kediri and Blitar regencies. This is because the volcano’s status is on high alert; the famous green lake in the caldera, a major attraction, has been closed to tourists.
As of Wednesday, the Geology Disaster Mitigation and Volcanic Center, which is located in Bandung, had kept the status of Mount Kelud at level four alert, meaning great care must be taken.
But do not worry because visitors have the choice of many attractions in Blitar city, including religious centers, historical sites and also a place to shop for handicrafts, particularly the special products of the Blitar community.
In Blitar city there is the grave of Bung (brother) Karno, as the first president was widely known. This grave is seldom short of visitors. Many take a tour wanting to know more of this carver of the nation’s history; others who believe in the supernatural perform rituals in the area surrounding Bung Karno’s Grave.
After visiting president Soekarno’s grave you can enter the Bung Karno library. This library was built on 1.5 hectares in the political administrative district of Bendogerit, in the subdistrict of Sananwetan. The place is around 500 meters from Bung Karno’s grave.
In the library you can read books from the collection, including Bung Karno the People’s Voice by Cindy Adams, Bung Karno Menangis dan Mendesak (Bung Karno Weeping and Urging) by Agus Pakpahan, Riwayat dan Perjuangan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 (A Narrative on the Struggle to Proclaim the Independence of Indonesia 17 August 1945) by Adam Malik and others.
You can also see a three-meter-high statue of Bung Karno. It is located in the middle of the first floor of the A building. A wall relief sculpture depicts the life journey of Bung Karno, from his youth through to the struggle for independence and old age.
If you are interested in the architecture of the Majapahit era, the famous Hindu Kingdom which had enormous influence because it dominated a big part of the Indonesian archipelago through to the Malay peninsula, examples can be seen in the Penataran Temple. This is situated approximately 13 kilometers from the Bung Karno library.
Some people believe that the temple, which is located on the south-west slope of Mount Kelud in Penataran village, Nglegok subdistrict, protects Blitar when Mount Kelud erupts. The location is around 15 kilometers from Mount Kelud.
“In the past this temple was often used by the Hindu community in Blitar and Kediri for praying. But later the temple became a tourist attraction and we can no longer pray in the temple complex,” said Suyoto, the head of Palisade Hindu Dharma Indonesia, Arum subdistrict, Blitar.
But, said Suyoto, more than 1,000 Hindus did not object because they can pray in Pura, which is in Blitar.
“I believe that in Blitar there are hundreds of other Hindu temples that have yet to be found. Not far from the Penataran Temple complex is a village called Sewu Temple. According to my ancestors, that area has many Hindu temples which were buried by ash following the eruptions of Mount Kelud,” he said.
The Penataran Temple was built in the era of Kertajaya, the king of the Majapahit Kingdom in 1197, as an offering to Sira Paduka Bhatara Palah. The Panataran Temple was discovered in 1815 by Englishman Sir Thomas Stamford Raffles (1781-1826), the lieutenant governor general who administered the then Dutch East Indies between 1811 and 1816.
Raffles together with Dr Horsfield, a scientist, visited the Penataran Temple. The result of their visit was reported in The History of Java, which was published in two volumes.
Raffles’ steps were later followed by other researchers namely J. Crawfurd, then Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), Jonathan Rigg (1848) and N.W.Hoepermans, who in 1886 made an inventory of the Penataran Temple complex.
Before you leave Blitar city don’t forget to buy souvenirs, like jimbe drums the product of Blitar’s home industries. You can buy drums in the tourist village of Tanggungsantren in Blitar regency, with prices starting from Rp 5,000 (about US 50 cents) up to Rp 500,000 (US$54).
“Our products are of international quality because they are mostly exported to countries in Africa like Tunisia, to Europe, Australia and the United States,” said the Romdhani, the head of the Timber Manufacturers’ Group.
“We started making jimbe drums just five years ago. Before that we made many traditional toys using mahogany, such as yo-yos and catapults. But because buyers lost interest in the traditional toys we finally started producing drums,” he said.
Ramdhani said that the jimbe name was taken because many overseas visitors called the drum a jimbe after the skin-covered hand drums from West Africa known as djembe. Finally manufacturers used the name jimbe drum to mark it as a Blitar specialty.
Now there are 30 home industries making jimbe drums.
“We try to substitute mahogany with nangka (jackfruit tree) timber because supplies of mahogany are getting scarce in the forest. Many mahogany trees are small and not ready for felling,” said Romdhani.
“We keep increasing the quality by decorating parts of the drum, including using motifs of Australian Aboriginal tribes. We want to satisfy customers so buyers will continue to patronize Blitar’s home industry handicrafts,” he said.
What a pity that after offering jimbe drums, Blitar doesn’t provide any special local culinary delight, like Kediri does with its tofu or Yogyakarta with its bakpia, (a dry cake made from flour). However the food in Blitar is cheaper when compared to Surabaya.
Saturday, November 24, 2007 | Posted by David Indra Harsaputra at 4:23 AM 3 comments
Labels: Travelling
