Abraham Lincoln

Semua orang pasti mengenal Abraham Lincoln, mantan presiden Amerika Serikat. Perjuangannya untuk menjadi Presiden Amerika Serikat tidaklah mudah, penuh dengan perjuangan dan kegagalan.



Berikut daftar kegagalannya sebelum menjadi Presiden Amerika Serikat.

Di umur 22 tahun ia gagal dalam bisnisnya,
setahun kemudian ia kalah dalam pemilihan calon legislatif
umur 25 tahun, ia mencoba kembali berbisnis tetapi gagal
Tidak lama kemudian kekasih pujaan hatinya meninggal dunia
Ia pun depresi mental di umur 27 tahun
Ia kembali bangkit di umur 34 dalam karier politik tetapi kalah lagi dalam pemilihan anggota kongres....
37 tahun kalah pemilihan anggota kongres, 39 tahun kalah pemilihan anggota kongres, 46 tahun kalah lagi dalam pemilihan senator...
Ia tidak berhenti bermimpi menjadi orang nomor satu di AS, meskipun diusia 47 tahun ia gagal menjadi Wakil Presiden Amerika. Hingga akhirnya, diusia 52 tahun ia berhasil menjadi Presiden USA........................

Jadi, jangan mudah putus asa, teruslah bermimpi, jangan dengarkan kata orang bahwa anda telah sakit jiwa, dan teruslah berjuang untuk menggapai mimpi itu. Jangan pernah berhenti, karena siapa tahu, ketika Anda berhenti, sebenarnya tinggal selangkah lagi Anda mencapai tujuan dan mimpi Anda.

Read More......

Membangun Kesadaran Berasuransi

Tingkat kesadaran masyarakat Indonesia berasuransi masih tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan kondisi di negara lain. Penilaian itu terutama jika dilihat dari sudut pandang tingkat penetrasi industri untuk pasar nasional nasabah individual. Hanya sekitar lima juta orang dari 220 juta jiwa penduduk Indonesia yang saat ini tercatat sebagai pemegang polis asuransi secara individual. Itu pun ada beberapa orang yang memiliki polis lebih dari satu.



Banyak faktor penyebab terjadinya kondisi demikian. Tingkat kesejahteraan masyarakat, diukur dengan pendapatan per kapita yang masih rendah, mungkin bisa dikatakan penyebab utama. Ditambah lagi kapasitas dunia usaha asuransi yang masih tergolong rendah sehingga upaya melakukan edukasi kepada publik masih terbatas. Padahal, edukasi itulah yang sangat penting untuk meningkatkan kesadaran, paling tidak pemahaman masyarakat akan pentingnya berasuransi.

Hal lain yang tak kalah penting untuk memajukan industri asuransi ialah serangkaian regulasi yang kuat dari pemerintah. Faktor satu ini harus diakui memang masih lemah, terutama dalam hal perlindungan bagi nasabah. Mengapa perlindungan bagi pemegang polis alias nasabah harus kuat karena merekalah pemilik dana yang dikelola penyelenggara asuransi. Mereka pula yang akan mengambil manfaat di kemudian hari.

Regulasi memang harus bermata dua. Di sisi lain, regulasi juga harus bisa mendorong tumbuh suburnya industri asuransi, memiliki daya ungkit untuk berkembangnya asuransi menjadi lembaga keuangan yang tangguh, sebagai pilar ketahanan sistem finansial nasional. Dengan demikian, daya saing asuransi dapat meningkat untuk ikut bermain di pasar global, setidaknya menjadi tuan di rumah sendiri.

Sudah ada langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk memperkuat industri asuransi, sebagai bagian memperkuat sistem keuangan nasional. Namun, dinamika industri global menuntut lebih banyak lagi.

Asuransi bisa dikatakan sebagai salah satu pilar ekonomi suatu bangsa, selain perbankan dan pasar modal. Asuransi, dengan segala dinamikanya, kini juga sudah mengambil peran yang cukup besar sebagai penyedia lapangan kerja, sumber penghasilan bagi masyarakat.

Mulai dari mahasiswa sampai ibu-ibu rumah tangga kini dengan mudah kita jumpai sebagai agen penjual atau pemasar asuransi. Asuransi sudah mulai dilirik kaum terdidik sebagai salah satu profesi yang tidak kalah gengsinya (termasuk pendapatan) dibandingkan profesi lain.

Memang masyarakat yang tercatat sebagai penabung, deposan, dan giran di perbankan nasional sudah cukup memadai. Meskipun itu belum dapat dijadikan ukuran tingkat keterjangkauan bank terhadap masyarakat, sebab ada saja nasabah bank yang memiliki lebih dari satu bahkan 10 rekening.

Secara kasatmata dapat dilihat penetrasi pasar perbankan yang semakin meluas, hingga menjangkau masyarakat pelosok desa. Kantor-kantor cabang perbankan sudah masuk sampai wilayah kecamatan.

Sedangkan asuransi, baru mulai semarak di ibu kota provinsi. Kalaupun ada yang telah menembus pasar di tingkat ibu kota kabupaten, itu pun masih bisa dihitung jari. Artinya, infrastruktur perasuransian memang jauh tertinggal, kalah dibandingkan perbankan. Padahal, dengan bekerja sama perbankan, asuransi pun bisa cepat meluaskan jangkauannya di tengah-tengah masyarakat, sampai pelosok desa sekalipun.

Kebutuhan

Di tengah kondisi masyarakat yang tingkat pendapatannya masih rendah, baru sekitar 1.500 dollar AS, boleh jadi berasuransi belum merupakan sebuah kebutuhan, apalagi dianggap sebagai gaya hidup (life style). Masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak ketimbang menyisihkan sebagian penghasilan untuk keperluan proteksi diri dan harta bendanya. Apalagi, kalau mengharapkan masyarakat memandang asuransi sebagai instrumen investasi, mungkin masih terlalu jauh.

Padahal, dalam sejarah sistem keuangan, kehadiran asuransi jauh lebih dulu ketimbang instrumen modern lainnya, seperti reksa dana yang sempat melesat dengan cepat tetapi ambruk karena tidak adanya exit policy yang andal, suatu kebijakan yang juga perlu dipersiapkan sejak dini sembari membenahi industri asuransi dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berasuransi.

Asuransi kini bukan lagi sebagai alat perlindungan diri atau perlindungan harta benda semata. Jangan lupa, asuransi telah berkembang sedemikian jauh, menjadi suatu instrumen investasi yang diharapkan dapat menjamin tersedianya dana untuk kebutuhan masa depan bagi diri peserta dan keluarganya, manakala seseorang sudah tidak produktif lagi menghasilkan uang.

Di tengah masyarakat, mungkin tidak jarang kita mendengar ucapan bahwa jangankan berasuransi, menabung sebagian kecil saja penghasilan untuk kebutuhan mendadak masih sulit bagi sebagian besar masyarakat.

Tidak salah-salah amat persepsi semacam itu. Inflasi, nilai tukar, kondisi moneter yang liar tidak terkendali, yang merupakan wilayah tanggung jawab profesional dan moral pemerintah untuk menjaganya, merupakan momok yang senantiasa menelan nilai aset masyarakat.

Pelaku dan regulator industri perasuransian bertanggung jawab meluruskan persepsi masyarakat yang keliru. Bukankah justru karena minimnya penghasilan sehingga menuntut seseorang harus disiplin menabung agar tidak gelagapan jika menghadapi kebutuhan mendadak, semisal untuk berobat kalau sakit. Menabung secara konvensional itu sendiri sebenarnya bentuk lain dari "perlindungan" yang dilakukan secara sadar atau tidak oleh masyarakat. Berasuransi hanyalah memindahkan pengelolaan risiko kepada pihak lain, yakni perusahaan asuransi.

Demikian pula dalam hal perlindungan harta benda, kesadaran masyarakat untuk melindungi harta bendanya dengan asuransi masih dianggap sebagai tindakan buang-buang uang. Membayar premi setiap tahun secara teratur, sedangkan manfaat yang diperoleh sering dirasakan tidak sebanding.

Citra kurang sedap yang melekat pada asuransi masih terasa kental. Saat calon nasabah dibujuk "membeli" polis asuransi untuk menyediakan payung risiko, yang bisa setiap saat datang menimpa atau memusnahkan diri dan aset kita, janji manfaat sepertinya setinggi langit.

Namun, manakala giliran nasabah mengajukan klaim, repotnya minta ampun. Prosedurnya berbelit, bahkan ada yang tidak jelas karena tidak transparannya proses pemasaran asuransi sejak awal. Begitulah citra asuransi yang masih melekat pada benak sebagian warga masyarakat sehingga popularitas asuransi masih memprihatinkan.

Lihat saja misalnya di berbagai media, bertaburan kekecewaan masyarakat pemegang polis diungkapkan. Komplain nasabah terhadap asuransilah yang lebih menonjol. Padahal, mereka yang merasakan manfaat berasuransi juga tak kalah banyaknya. Kalau tidak, tentu sudah lama asuransi lenyap dalam percaturan bisnis. Inilah pekerjaan rumah seluruh komponen industri asuransi. Mulai dari regulator, pelaku, dan lembaga-lemabaga penunjangnya, sampai agen independen.

Agen yang berada di garda paling depan industri asuransi juga tak kalah penting dan mendesak pembenahannya. Mulai dari sistem perekrutan, pendidikan dan latihan, serta kepiawaian menyampaikan informasi asuransi, dan menjelaskan produk-produknya kepada masyarakat secara jelas, jujur dan transparan.

Hanya dengan begitu, reputasi industri asuransi dapat dibangun sehingga citra asuransi pun dapat terangkat. Sayangnya, banyak pelaku industri asuransi yang justru mendahulukan penanaman citra, tetapi lupa membangun fondasi industri asuransi, yakni reputasi.

Membangun kesadaran masyarakat berasuransi untuk menyiapkan masa depannya yang lebih baik, menyediakan perlindungan diri dan aset-asetnya di tengah ketidakmampuan pemerintah menyediakan jaminan sosial memadai, memang menuntut kebersamaan seluruh komponen industri asuransi dan regulator. Tanpa semua itu, hanyalah sebuah kesia-siaan. (KCM)

Read More......

Asuransi, Belajarlah dari Ambisi China

Asuransi adalah salah satu industri paling cepat perkembangannya di China. Pejabat Komisi Pengawas Industri Asuransi China menyatakan, sampai tahun 2010, pendapatan industri asuransi China diperkirakan akan meningkat 200 persen dibandingkan dengan tahun 2005 dengan melampaui 1 triliun yuan atau sekitar 125 miliar dollar AS.

Dan sejalan dengan percepatan kemajuan industri tersebut, bidang-bidang industri asuransi yang terbuka terhadap dunia luar juga semakin luas.

Wakil Ketua Komisi Pengawas Industri Asuransi China Li Kemu mengemukakan, pendapatan perusahaan asuransi China dari premi selama lima tahun terakhir ini mencatat kenaikan rata-rata lebih dari 17 persen setiap tahun.

Sistem pasar semakin sempurna. Jumlah lembaga asuransi di China dewasa ini mencapai 100. Diperkirakan sampai tahun 2010, China pada pokoknya akan membangun industri asuransi modern yang skala bisnisnya relatif besar, sistem pasarnya sempurna, bidang layanannya luas, operasinya dapat dipercaya dan baku, daya pelunasannya cukup dan daya saing terpadunya relatif kuat.

"Diperkirakan sampai tahun 2010, pendapatan industri asuransi China akan meningkat 200 persen dibanding tahun 2005 dengan menembus 1 triliun yuan, dan aset total yang dikelola industri asuransi akan mencapai 5 triliun yuan lebih atau sekitar 6.250 miliar dollar AS," ungkapnya.

Bisnis yang dilakukan industri asuransi Tiongkok sekarang ini mencakup berbagai bidang pembangunan ekonomi dan sosial. Industri asuransi sementara mengembangkan dirinya, juga aktif "mengabdi" kepada pembangunan ekonomi dan sosial serta peningkatan kehidupan rakyat melalui bisnisnya. Misalnya, menghadapi kesenjangan di bidang perkembangan asuransi antara kota dan desa di China, lembaga industri asuransi di China sedang bekerja sama dengan departemen pertanian mengembangkan asuransi pertanian.

Li Kemu mengutarakan, "Komisi Pengawas Industri Asuransi akan aktif mengembangkan asuransi pertanian dan melakukan percobaan asuransi tersebut dalam berbagai bentuk berdasarkan keadaan nyata di berbagai tempat. Sementara itu, industri asuransi akan aktif ambil bagian dalam percobaan pengobatan gotong royong pedesaan, mengadakan asuransi hari tua bagi petani yang tanahnya direkuisisi, dan menyediakan layanan asuransi bagi petani yang bekerja di kota."

China adalah negara besar pertanian, juga sebuah negara yang pertaniannya sering dilanda bencana alam serius. Menurut statistik, luas tanaman pertanian yang mengalami bencana alam tahun lalu di seluruh negeri mencapai 60 juta hektar.

Komisi Pengawas Industri Asuransi akan mendorong perusahaan-perusahaan asuransi yang kini sudah melakukan asuransi pertanian untuk menambah investasi. Komisi tersebut telah mengesahkan pula tiga perusahaan asuransi pertanian yang baru untuk menjamin asuransi tersebut dapat berjalan secara profesional. Sementara itu, perusahaan asuransi China aktif ambil bagian pula dalam asuransi sejumlah peristiwa dan kegiatan penting.

Pengelolaan ventura

Membeli asuransi adalah suatu cara pokok untuk melakukan pengelolaan ventura bagi penyelenggaraan Olimpiade Beijing tahun 2008, dan juga suatu cara yang lazim diterapkan dunia internasional. Pihak pengawas asuransi China kini telah membentuk lembaga terkait dengan Komite Olimpiade Internasional untuk menyediakan konsep asuransi bagi Olimpiade.

Sejalan dengan percepatan kemajuan bisnis asuransi di China, keterbukaan industri asuransi China terhadap dunia luar juga semakin luas, dan jumlah perusahaan asuransi modal asing yang beroperasi di China juga terus bertambah.

Kini, sudah tidak ada pembatasan lain bagi perusahaan asuransi modal asing di China, kecuali dilarang melakukan bisnis asuransi yang diwajibkan berdasarkan hukum, serta ketentuan tentang keharusan untuk berpatungan dalam mendirikan perusahaan asuransi jiwa.

Sementara itu, kerja sama China dengan luar negeri dalam bidang pengawasan industri asuransi juga mencapai kemajuan positif. Kini, China telah menandatangani nota kesepakatan kerja sama pengawasan industri asuransi dengan Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, Singapura, dan negara-negara lain.

Ke depan, China akan menandatangani persetujuan dengan lebih banyak negara dan daerah, serta mengambil tindakan untuk mengawasi lembaga-lembaga yang didirikan perusahaan asuransi China di luar daratan China.(KCM)

Read More......

10 Perbedaan

Rekans, cobalah mencari 10 perbedaan dari dua foto dibawah ini. Setelah itu, anda tebak siapakah nama tokoh berikut ?




Kalau ini foto siapa hayo ?
a. Mas Indra
b. Bradd Pitt
c. Nicholas Cage




Kalau ini apanya Mas Indra ?
a. pacarnya
b. temannya
c. saudaranya

segera kirimkan jawabanmu ke alamat emel yang tersedia. Ada hadiah seru yang nggak bakal kamu lupakan sepanjang hidupmu. Ketik spasi fans_masindra

Read More......

Di Balik Eksotisme Alam Kawah Ijen

Indra Harsaputra
Bondowoso

Di balik keindahan panorama Gunung Ijen, gunung berbentuk danau kawah terbesar di dunia yang terletak di Bondowoso Jawa Timur ternyata menyimpan bahaya bagi masyarakat sekitar. Sedikitnya 50 ribu jiwa terancam kesehatannya akibat air asam dari danau kawah merembes ke sumur-sumur penduduk.



Seperti biasanya, sebelum memikul puluhan ton belerang, Badawi (45), salah satu pencari belerang di Kawah Ijen sedang duduk menikmati secangkir kopi arabika di sebuah warung di desa Paltuding Kabupaten Bondowoso.

Di sebelah cangkir kopi terhidangkan sebotol air putih sebagai bekal berjalan kaki sejauh 4 kilometer mengambil belerang di Kawah Ijen. Air minum itu bukanlah air minum yang dikemas dalam botol kemasan melainkan diambil dari sumur milik warga sekitar.

"Kata orang disini, air sumur disini beracun karena resapan dari air danau kawah. Tetapi, saya dan bersama dengan warga lain tidak peduli dengan pengaruh air ini karena sampai saat ini kami masih sehat-sehat saja, " katanya kepada The Jakarta Post.

Badawi yang warga desa Bulusan Kecamatan Kalipuro Kabupaten Banyuwangi sudah lima tahun tinggal di rumah penampungan bersama dengan ratusan pekerja pencari belerang di desa Paltuding Kabupaten Bondowoso. Selain minum air sumur, ia juga menggunakan air sumur untuk mandi.



Berdasarkan penelitian Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah tahun 2007 air asam di danau kawah itu itu telah merembes dan mencemari sungai dan sumur warga sekitar. Akibat pencemaran tersebut, warga terancam mengalami kerusakan gigi dan tulang . Selain itu juga menurunkan produksi pertanian.

Air yang tercemar itu saat ini bahkan telah digunakan untuk pengairan lahan sawah seluas 3.564 hektar dan sangat berpengaruhi terhadap kehidupan warga sekitar 50.000 jiwa di tiga kabupaten.

Dalam laporannya Unika Soegijapranata Semarang menyatakan sebagian besar penduduk di sekitar sungai Banyupahit dan Banyuputih yang mengkonsumsi air asam Kawah Ijen, telah mengetahui bahaya dari mengkonsumsi air yang tercemar namun, kesadaran mereka saat ini masih sangat rendah.

Penelitian itu didukung oleh Universiteit Untrech, Open Universiteit Nedherland, dan Vrije Universiteit Amsterdam yang menyebutkan air asam di kawah Ijen juga mengakibatkan keanekaragaman akan hayati menjadi rendah, serta banyaknya penduduk yang mengalami florosis gigi karena terlalu banyak kandungan fluoride pada air minum.

Dalam sebuah diskusi di Institut Tehnologi 10 November Surabaya (ITS), Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi ESDM Surono menyatakan akibat konsumsi air kawah yang meresap di sumur itu menyebabkan pertumbuhan manusia menjadi tidak normal dan akhirnya mempengaruhi umur masyarakat menjadi pendek.



Surono mengatakan pihaknya merekomendasikan kepada Gubernur Jatim dan kepala daerah setempat untuk membuat terowongan untuk mengalirkan air kawah yang bocor ke laut. Jarak kawah dengan laut sekitar 42 km.

Akan tetapi hingga saat ini rekomendasi tersebut belumlah terealisasi.

Bagi masyarakat yang tinggal di lereng Kawah Ijen, alam bukanlah ancaman tetapi menjadi sahabat sejati, tempat mereka menggantungkan hidup dan mencari penghidupan. Mereka tetap mengkonsumsi air yang tercemar itu karena yakin bahwa alam tidak akan menyakiti mereka.

"Paham ini juga berlaku di masyarakat yang tinggal di pegunungan lain. Di Gunung Merapi dan Gunung Kelud misalnya mereka tetap beraktifitas meskipun kondisi alam sedang bergejolak, " kata Bagong Suyanto, pengamat masyarakat pedesaan Universitas Airlangga Surabaya.

"Kehidupan masyarakat sangatlah bergantung pada alam, dan alam dianggap sebagai rumah yang aman bagi mereka. Orang yang tinggal di pegunungan justru akan merasa terancam jiwanya ketika harus berjalan kaki menyeberang jalan di kota, " katanya.

Bagi wisatawan, baik lokal dan asing, Gunung Ijen atau yang lebih dikenal disebut Kawah Ijen tetap mempunyai daya tarik tersendiri. Kawah Ijen merupakan satu diantara gunung berdanau kawah di Indonesia. Dari sekitar 700 gunung di Indonesia, hanya 12 persen saja yang berdanau kawah, seperti Gunung Kelud Kediri Jatim, Gunung Rinjani (3.726 meter diatas permukaan laut/mdpl) di Lombok Nusa Tenggara Barat, serta kompleks Kelimutu di Flores.



Bersama dengan 12 rekannya, Nichole Anderson (34) wisatawan asal Perancis berkunjung ke Kawah Ijen setelah melihat foto-foto Kawah Ijen di salah satu situs internet. Sebelum berkunjung ke Kawah Ijen, Nichole sempat berkunjung ke Gunung Kelud yang terletak di daerah perbatasan Kediri dan Blitar Jawa Timur.

Saat ini Gunung Kelud dinyatakan berstatus siaga setelah akhir tahun lalu dinyatakan awas karena menunjukkan peningkatan aktifitas gunung tersebut. Meskipun statusnya diturunkan, namun wisatawan dilarang untuk mendekat di areal kawah Gunung Kelud yang saat ini berdiri kubah lava atau yang disebut sebagai anak Gunung Kelud setinggi 700.000 meter persegi dengan diameter 130 meter.

Kubah lava yang terbentuk itu menutupi eksotisme danau kawah gunung Kelud yang berwarna hijau cerah mirip seperti di kawah Ijen. Menurut beberapa ahli vulkanologi, kubah lava yang ada di Gunung Kelud merupakan fenomena yang unik dalam sejarah kegunungapian di Indonesia dan masih tetap berpotensi untuk pecah sehingga menimbulkan letusan gunung yang dasyat.

"Pemandangan di kawah Ijen sangat indah dan menarik. Saya telah menghabiskan waktu untuk memotret di atas sana (kawah), " katanya.



Untuk mencapai kawah Ijen saat ini tidaklah terlalu sulit ditempuh dengan kendaraan bermotor. Akan tetapi lebih baik jikalau melalui rute kota Bondowoso ke timur melalui Wonosari ke desa Sempol dan kemudian ke desa Paltuding sejauh 70 km. Rute ini lebih mudah karena melewati jalan aspal mulus ketimbang melalui kota Banyuwangi sejauh 38 km ke barat melalui desa Licin, Jambu, Paltuding yang melalui jalan makadam dengan tanjakan yang cukup curam.

Dalam perjalanan dari kota Bondowoso, wisatawan akan menikmati areal perkebunan kopi arabika dan hutan pinus milik Perhutani. Wisatawan juga dapat menikmati secangkir kopi arabika dengan harga yang murah, sekitar Rp 1500,- per gelasnya.

Setelah sampai ke Paltuding (1,600 mdpl), sebuah pos Perhutani di kaki gunung Merapi- Ijen, wisatawan harus berjalan kaki sejauh 4 meter dengan waktu tempuh sekitar 2 jam menuju Kawah Ijen. Saat perjalanan disarankan membawa bekal seperti makanan dan minuman karena medan yang harus didaki sangat berat dan melelahkan.

Namun, demi alasan keamanan, pendakian ke kawah ijen dari Paltuding ditutup selepas pukul 14.00 WIB ,karena pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian.

Untuk mengejar perjalanan di pagi hari, wisatawan dapat bermalam di Guest House Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat, Jampit. Guest house ini terletak didalam kompleks perumahan perkebunan pada ketinggian sekitar 1,200 mdpl. Selain itu juga tersedia Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, atau membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding.



Wisatawan juga perlu membawa bekal masker, kacamata atau saputangan basah untuk menangkal asap beracun yang keluar dari kawah. Tetapi wisatawan tidak perlu kuatir untuk kesasar asalkan mengikuti jalan setapak yang dilalui oleh penambang belerang.

Sesampainya di puncak, kita dapat melihat langsung kawah berwarna hijau tosca yang berda di ketinggian 2.368 meter di atas permukaan laut. Kawah seluas 5.466 hektar itu itu berdinding kaldera setinggi 300-500 meter. Air kawah danau Ijen yang volumenya 200 juta meter kubik itu panasnya mencapai 200 derajat celcius dan memiliki derajat keasaman nol. Keasamannya danau kawah yang dalamnya 200 meter itu cukup kuat untuk melarutkan pakaian dan jari manusia.

Wisatawan memang dilarang mengambil bahkan membeli belerang yang dipikul oleh penambang belerang. Meskipun demikian, wisatawan dapat membawa pulang cinderamata berbentuk aneka satwa berbahan belerang cair yang dibuat oleh penambang belerang. Harganya cukup murah, hanya Rp 2000,- sampai Rp 10 ribu per buahnya.

Read More......

The Art of War by Sun Tzu (part 1)



I. LAYING PLANS

1. Sun Tzu said: The art of war is of vital importance to the State.
2. It is a matter of life and death, a road either to safety or to ruin. Hence it is a subject of inquiry which can on no account be neglected.
3. The art of war, then, is governed by five constant factors, to be taken into account in one's deliberations, when seeking to determine the conditions obtaining in
the field.
4. These are: (1) The Moral Law; (2) Heaven; (3) Earth; (4) The Commander; (5) Method and discipline.
5,6. The Moral Law causes the people to be in complete accord with their ruler, so that they will follow him regardless of their lives, undismayed by any danger.
7. Heaven signifies night and day, cold and heat, times and seasons.
8. Earth comprises distances, great and small; danger and security; open ground and narrow passes; the chances of life and death.
9. The Commander stands for the virtues of wisdom, sincerely, benevolence, courage and strictness.
10. By method and discipline are to be understood the marshaling of the army in its proper subdivisions, the graduations of rank among the officers, the maintenance of roads by which supplies may reach the army, and the control of military expenditure.
11. These five heads should be familiar to every general: he who knows them will be victorious; he who knows them not will fail.
12. Therefore, in your deliberations, when seeking to determine the military conditions, let them be made the basis of a comparison, in this wise:--
13. (1) Which of the two sovereigns is imbued with the Moral law? (2) Which of the two generals has most ability? (3) With whom lie the advantages derived from Heaven
and Earth? (4) On which side is discipline most rigorously
enforced? (5) Which army is stronger? (6) On which side are officers and men more highly trained? (7) In which army is there the greater constancy
both in reward and punishment?
14. By means of these seven considerations I can forecast victory or defeat.
15. The general that hearkens to my counsel and acts upon it, will conquer: let such a one be retained in command! The general that hearkens not to my counsel nor acts
upon it, will suffer defeat:--let such a one be dismissed!
16. While heading the profit of my counsel, avail yourself also of any helpful circumstances

Read More......

"Manusia Belerang" dari Kawah Ijen

Indra Harsaputra
The Jakarta Post/Bondowoso

Keunikan Gunung Ijen tidaklah terlepas dari kisah para "manusia belerang", penambang tradisional belerang yang bekerja keras menggali kemudian mengangkat puluhan kilogram belerang padat demi melepaskan diri dari jerat kemiskinan.



Penambangan tradisional ini hanya terdapat di Indonesia, selain di Gunung Ijen juga di Gunung Welirang yang semuanya berada di Jawa Timur. Belerang yang diambil oleh penambang itu dihasilkan dari hasil sublimasi gas-gas belerang yang terdapat dalam asap solfatara yang bersuhu sekitar 200 derajat Celsius. Kapasitas belerang rata-rata sekitar 8 ton per hari.

Segelas ramuan jamu plus telor ayam kampung setengah matang menjadi santapan rutin Ahmad (38), salah satu dari 200 penambang belerang di Kawah Ijen Bondowoso Jawa Timur setiap paginya sebelum ia bertugas mengangkat puluhan kilogram belerang.



Jamu itu dikonsumsi guna menambah tenaga untuk berjalan kaki sambil membawa puluhan kilogram belerang dari dari bibir kawah dengan kecuraman 50 derajat sejauh 800 meter, kemudian berjalan menuruni gunung dengan kemiringan 40 derajat hingga 60 derajat sejauh 3 kilometer menuju tempat pengumpulan belerang.

Tidak semua rekan Ahmad meminum jamu tradisional tersebut. Mereka lebih menyimpan penghasilannya untuk keperluan keluarganya di rumah. Beberapa diantaranya hanya meminum jamu ketika mendapatkan penghasilan tambahan dari penjualan souvenir berbentuk satwa berbahan belerang yang dibuat penambang seharga Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu per buahnya.

Setelah menghabiskan jamu itu, Ahmad bergegas mengambil keranjang tempat belerang menuju lokasi penambangan belerang Kawah Ijen bersama dengan ratusan penambang lainnya. Rata-rata penambang belerang itu berumur 29 sampai 55 tahun dan berasal dari sekitar Situbondo dan Banyuwangi.


Bagi penambang yang berasal dari Banyuwangi yang berjarak 33 kilometer dari Situbondo, mereka tinggal di penampungan yang disediakan oleh koordinator kelompok penambang yang membawahi 20-30 penambang belerang. Selain menyediakan tempat penampungan, koordinator ini juga bertanggung jawab atas penjualan belerang kepada pengepul sebelum dijual di perusahaan kosmetik dan kimia di Surabaya.



Namun, koordinator kelompok ini tidak bertanggung jawab atas biaya konsumsi juga biaya atas resiko kerja dari pekerja tambang belerang. Sebagai imbal jasanya, setiap penambang akan dikenai retribusi sebesar 4 kilogram dari jumlah beban yang dibawa penambang untuk sekali pengambilan belerang.

Lokasi penambangan belerang terdapat di dasar kawah seluas 5.466 hektar yang berisi air membentuk danau berwarna hijau tosca yang berda di ketinggian 2.368 meter di atas permukaan laut. Kawah itu berdinding kaldera setinggi 300-500m, sedangkan danau Ijen memiliki derajat keasaman nol, memiliki kedalaman 200 meter. Keasamannya cukup kuat untuk melarutkan pakaian dan jari manusia.



Nicolai Hulot, host salah satu televisi Perancis dalam acara Ushuwaia Adventure pernah duduk diatas perahu karet bercerita ttg asal-usul danau tersebut.

Untuk mendapatkan belerang, penambang membuat pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang yang mengeluarkan gas sulfatara. Untuk menghindari pecahnya pipa, para penambang akan menyiram pipa dengan air. Dari sinilah lelehan fumarol bersuhu 600 derajat Celsius berwarna merah menyala meleleh keluar dan langsung membeku terkena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang. Batu-batuan belerang inilah yang akan diambil. Dipotong dengan bantuan linggis dan kemudian langsung diangkut dalm keranjang.

Konsentrasi sulfur yang tinggi dan bau gas sulfatara yang kadang menyengat yang membuat sesak nafas dan mata perih itu tidak membuat Ahmad menyerah untuk memotong belerang padat di bibir kawah. Mereka tanpa dibekali masker ataupun kacamata. Untuk menyelamatkan diri dari resiko tersebut, penambang hanya berbekal kain dan air.



Apabila nafas terasa sesak, mereka menuangkan air ke dalam kain, kemudian kain basah tersebut digigit. Beberapa penambang memiliki masker anti debu pemberian pengunjung. Tetapi masker tersebut tidak cukup untuk menahan racun dari gas tersebut.

Tidak mudah pula bagi mereka untuk berjalan kaki sambil membwa puluhan kilogram belerang menaiki kaldera diatas ketinggian lebih dari 2000 meter. Meskipun sudah bertahun lamanya bekerja, penambang belerang butuh waktu 2 menit untuk beristirahat sebelum sampai ke atas kawah.

"Saya bisa minta rokok anda, " kata Ahmad kepada The Jakarta Post sambil mengusap keringat yang besarnya sebiji jagung sesampainya berada di atas kawah.

"Lega rasanya bisa sampai sini. Bila anda turun kebawah, saya sarankan mengikuti jalan yang dilalui penambang. Bila tidak anda akan terperosok jatuh diantara bebatuan. Jadi berhati-hatilah, " katanya.

Setelah menghabiskan rokok, Ahmad bergegas turun menuju tempat penimbangan belerang di bekas bangunan kuno peninggalan Belanda bertuliskan “Pengairan Kawah Ijen”, yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar. Disinilah petugas memberikan secarik kertas tentang beban dan besaran upah yang dibawa penambang. Kertas tersebut akan diganti dengan uang bila sampai di pusat pengepulan belerang.



Dalam sehari, Ahmad yang berasal dari desa Taman Sari Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi tersebut mampu mengangkat 180 kilogram belerang. Beban itu diangkat dalam dua kali perjalanan naik dan turun. Untuk per satu kilogramnya, Ahmad dibayar Rp 500,- dan ia pun dikenai distribusi per hari 8 kilogram yang disetorkan kepada ketua kelompok. Sehingga pendapatan Ahmad per harinya sebesar Rp 86.000,-

"Pekerjaan saya jauh lebih berat dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya. Tetapi penghasilan yang didapatkan jauh lebih besar, " katanya Ahmad yang sebelumnya menjadi buruh tani di Banyuwangi dengan penghasilan Rp 500 ribu per bulannya.

Dari penghasilan ini, ia mampu membeli dan membangun rumah di tempat asalnya Banyuwangi.

Meskipun mendapatkan penghasilan yang cukup besar, tetapi Ahmad dan penambang lainnya tidak menyadari bahaya akan kesehatan mereka.



"Bagi saya, kesehatan nomor sepuluh Mas, yang penting dapat uang dan bisa kerja, " kata Ahmad.

Pukul 17.00 WIB, ia pun bergegas pulang ke penampungan untuk beristirahat mempersiapkan hari esok dengan belerang-belerangnya.

Read More......