Indra Harsaputra
Surabaya
Penyandang cacat yang selama ini sering diabaikan kemampuannya oleh dunia usaha, justru telah menghantarkan keberhasilan Tatik Winarti (38), pengusaha handicraft di Surabaya mengekspor produknya ke mancanegara dan menerima penghargaan dari dunia internasional.
Pudjiono (22), penyandang cacat asal Kecamatan Sukolilo Pati Jawa Tengah tengah sibuk menjahit tas dari kain perca di rumah produksi Tiara Handicraft milik Tatik Winarti di Jl Sidosermo Indah II No.5, Surabaya. 
Meskipun kedua kaki dan kedua tangan Pudjiono lumpuh sejak kecil, namun hasil karya pria yang lulusan Rehabilitation Center Solo dan bergabung bersama 45 penyandang cacat lainnya di Tiara Handicratf sejak tiga bulan lalu tidak kalah dengan orang normal lainnya. Padahal ketika pertama kali bekerja, ia tidak mempunyai keahlian yang memadai.
Selepas dari rehabilitasi Pudjiono mencoba melamar pekerjaan di tempat lain, namun semua lamarannya ditolak. Namun ia tidak putus asa. Setelah menghubungi Tatik via telepon, ia pergi ke Surabaya naik bus dari Solo tanpa seorang pengantar yang menemaninya.
Tatik pun memberikan training khusus cara menjahit dengan mesin jahit dan memberinya tempat tinggal di rumahnya. Tatik pun menyisihkan uang dari pendapatannya untuk diberikan kepada Pudjiono sebagai upah meskipun ia belum mampu berproduksi seperti karyawan lainnya.
Bagi usahawan cara Tatik mungkin dianggap konyol. Memperkerjakan penyandang cacat yang sulit diukur tingkat produktifitasnya justru akan menambah beban produksi.
"Saya tidak ingin agar orang yang membeli produk saya itu kasihan dengan pekerja yang semuanya penyandang cacat, " katanya kepada The Jakarta Post.
"Siapa yang bilang kalau mereka tidak produktif ? Mereka mampu asalkan diberikan kesempatan yang sama seperti orang normal lainnya. Dengan kesabaran dan ketelatenan pengusaha, mereka bisa menghasilkan karya yang luar biasa, " lanjutnya. 
Apa yang dikerjakan Tatik membina Pudjiono bersama dengan puluhan penyandang cacat itu membuatnya mendapatkan penghargaan The Global Microintrepreneur Award dalam pencanangan International Year Of Microcredit 2004 itu diterimanya di Markas PBB, New York, pada 18 November 2004 lalu.
Penghargaan itu diberikan atas usahanya menjalankan Social Bussiness Entrepreneurship (SBE) yang dipandang memberikan terobosan bagi pengentasan kemiskinan bagi penyandang cacat yang selama ini sulit mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Para penyandang cacat diberikan pelatihan kemudian penyandang cacat itu diberikan kesempatan untuk berkarya di bidang usaha yang digelutinya. Penyandang cacat yang dianggap mampu berkarya sendiri secara mandiri diberikan kesempatan untuk membuka usaha sejenis di tempat lain. Sampai saat ini ia berhasil melahirkan puluhan usaha mandiri dari penyandang cacat.
"Selama berada di markas PBB saya benar-benar mendapat perlakuan istimewa. Saya duduk sejajar dengan Nane Annan, istri Sekjen PBB Koffi Annan, Putri Belgia Mathilda serta para pejabat UNDP," katanya Tatik.
SBE sendiri pernah dipopulerkan oleh Muhammad Yunus, seorang ekonom lulusan Vanderbilt University dan dosen di Chittagong University Bangladesh peraih Nobel Perdamaian tahun 2006 melalui program Grameen Bank kredit tanpa syarat kepada 2 juta penduduk miskin dengan total pinjaman sebesar lebih dari US$ 2 milyar.
Nama Tatik pun semakin melambung setelah berbagai penghargaan diraihnya antara lain Penghargaan sebagai Prestasi Terbaik bagi Wiraswasta Kecil dan Menengah oleh State Power Co 2004, Model Teladan Masyarakat Sosial 2005, Wanita Paling Terkemuka 2005 versi Plaza Semanggi, Woman of The Year ANTV Televisi Nasional 2005, penghargaan dari Presiden Republik Indonesia 2005, penghargaan Desain Tekstil oleh Menteri Perdagangan 2005, Prestasi Membela Kaum Tuna Daksa oleh Menteri Sosial dan Konfrensi TunaDaksa 2005 dan beberapa penghargaan lainnya.
Selain penghargaan, ia pun diundang oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Negara Amerika Serikat( Bureau of Educational and Cultural Affairs) untuk program International Visitor Leadership—tepatnya Women And Entrepreneurship a Project for Indonesia pada tahun 2007.
Melalui program tesebut, Titik banyak belajar sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan. Disana ia banyak belajar tentang bisnis manajemen, strategi marketing dan distribusi, market global dan kompetisi internasional, praktek bisnis dan aktivitas lokal AS, hukum ekonomi dan ekspor dan impor internasional, dan tanggung jawab sosial bagi pengusaha.
Kesuksesan tidaklah datang dengan tiba-tiba.
Lima belas tahun yang lalu, Tatik Winarti yang hanya lulusan SMA Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Surabaya tahun 1988 hanyalah seorang ibu rumah tangga yang menggantungkan nasibnya dari penghasilan suaminya, Yudha Dharmawan (41) yang bekerja di perusahaan perkayuan CV Sekar Jati Surabaya dengan penghasilan Rp 600 ribu per bulannya.
Saat itu kehidupannya sangat minim. Satu-satunya aset yang ia miliki hanyalah sebuah mesin jahit seharga Rp 250 ribu. Saat ini mesin pertamanya tidak bisa digunakan lagi dan ditawar pedagang barang bekas seharga Rp 10 ribu.
Rumah tinggal sekaligus rumah produksi yang ia tempati hingga saat ini masih berstatus rumah milik keluarga. Tatik juga tidak memiliki tabungan, passive income dan asuransi padahal ia harus membayar pajak, biaya sekolah ketiga anaknya (sekarang jadi empat, satu baru berusia 16 bulan), dan pengeluaran kebutuhan lainnya.
Untuk mengisi waktu luangnya, Tatik membuat kerajinan tangan, seperti vas bunga, tempat lilin, sarung bantal, penutup kursi, tempat tisu, taplak, penutup Aqua, seprai, gorden, baju, hingga tas perempuan dengan dengan bahan-bahan sisa rumah tangga, seperti kain perca atau kain sisa, botol bekas kecap, tempat selai, kaleng, dan beberapa barang sisa lainnya.
Tanpa ia sadari, banyak kerabat dan tetangga sekitar rumahnya mengagumi hasil karyanya dari barang sisa tersebut. Ia pun berinisiatif membuka usaha kerajinan tangan di rumahnya. 
Suaminya tidak terlalu berharap banyak atas usahanya yang dijalankan oleh Tatik yang belum banyak "makan garam" berbisnis kerajinan tangan. Apalagi sulit bagi Tatik untuk mendapatkan modal dari pihak perbankan karena ia tidak mempunyai aset yang dapat dijaminkan kepada pihak bank.
"Saya harus mencoba optimis karena ada cara lain untuk menambah penghasilan keluarga dan membuat keluarga bahagia kalau tidak dengan berbuat hal-hal yang kecil yang bisa dikerjakan terlebih dahulu, " katanya.
Selang dua tahun kemudian, usahanya pun menuai hasil. Pembeli bahkan pemesan produknya pun melimpah. Dengan modal yang kecil, ia mendapatkan hasil yang maksimal. Tahun 1997, ia mendapatkan omset Rp 5 juta per bulan dari hasil penjualan kerajinan tangannya.
Untuk mensiasati seretnya pinjaman dari bank, omset yang didapatkannya itu dibelanjakan untuk membeli beberapa mesin jahit. Ia pun mulai merekrut tenaga kerja bukan penyandang cacat dengan sistem borongan. Karyawan hanya diberikan upah sesuai dengan jumlah barang yang diselesaikan.
Akan tetapi jalan menuju kesuksesan yang harus dilaluinya tidak selalu mulus.
Ketika Indonesia didera krisis moneter tahun 1998 yang membuat harga bahan pokok pun melambung tinggi, daya beli masyarakat menurun drastis, dan banyak usaha yang kolaps justru tidak mempengaruhi usaha Tatik. Ia pun lalu menampung korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) untuk bekerja di rumah produksinya.
Namun pertengahan tahun 1999, ia didera masalah. Sebagian besar karyawannya hengkang dari rumah produksnya karena mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di tempat lain dengan harapan mendapatkan pendapatan yang lebih baik ketimbang bertahan sebagai pengrajin kain perca.
Insyiah salah satu penyandang cacat di Surabaya bersama dengan beberapa penyandang cacat lainnya datang bertemu Tatik untuk memberikan semangat untuk meneruskan usaha handicraft. Mereka yang minta agar Tatik menurunkan ilmunya kepada penyandang cacat pun mulai bekerja bersama dengan Tatik meneruskan usahanya.
Hingga akhirnya, sampai saat ini, usaha Tatik tetap eksis dengan omset 20-25 juta per bulannya. 30 persen omsetnya itu didapatkannya dari kontribusi penjualan produknya di Malaysia, Singapura, negara-negara Arab, Brasil hingga Eropa.
"Mereka (penyandang cacat) itulah yang memberikan saya semangat untuk keluar dari krisis, " katanya.
Saat ini, Tatik memiliki 45 karyawan yang seluruhnya penyandang caat. Tatik pun juga memiliki 60 mesin jahit, 10 diantaranya merupakan sumbangan individu maupun organisasi atau perusahaan. Jumlah seluruh aset yang ia miliki bernilai Rp 150 juta, termasuk mobil pick-up dan peralatan industri lainnya.
Kehidupan Tatik pun jauh lebih baik dibandingkan lima belas tahun lalu. Ia kini telah memiliki tabungan keluarga dan jaminan asuransi kesehatan dan jiwa. Untuk mengembangkan usahanya, Tatik berniat mengurus sertifikat kepemilikan rumah yang saat ini berstatus milik keluarga ke milik pribadi dengan cara pengalihan kredit rumah. Jika proses alih kredit itu berhasil, rumah tersebut akan ia jaminkan sebagai kredit usaha.
SUKSES BERSAMA PENYANDANG CACAT
Sunday, June 15, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 11:53 PM 2 comments
Labels: Indonesian Version
Dua Tahun Lumpur Panas
Lapindo Penipu ? (Rp 50.000,-)
Segarnya bisa mandi di pengungsian (Rp 250.000,-)
Merenung dalam kegelapan (Rp 1.500.000,-) --terjual by Robin McDoweell from Associated Press (AP)
Biar mak dan bapakku stress, tetapi aku tetap belajar (Rp 200.000,-)
Nasibku Gak Sebaik Lapindo (Rp 100.000,-)
Thursday, June 5, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 7:44 PM 0 comments
Labels: Photos
HELP ME GOD

(INDRA HARSAPUTRA/THE JAKARTA POST)
Wednesday, May 28, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 8:36 PM 0 comments
Labels: Photos
Anyasssss

Seorang ibu meniup mulut anaknya karena terlanjur memamah makanan yang panas pada Festival Jajanan Bango di Surabaya. (surya/dodo hawe)
Posted by David Indra Harsaputra at 8:32 PM 0 comments
Sekiguchi Gomei: Peaceful way of the samurai

A sharp weapon shouldn't always be linked to violence, according to Sekiguchi Gomei, 63, a grandmaster iaijutsu, who, with his samurai sword, is actively campaigning for world peace.
In mid-April, Sekiguchi visited Sidoarjo in East Java to train students from the Komei Juku Shibucho institution of Indonesia. During his visit he also presented iaijutsu to dozens of students at one of the international schools in Surabaya.
Sekiguchi trained many students during his visit, including Angelina, 10, Alexander Rizki Maulana, 8, and Prince Muhammad Perdais, 7 -- three students of the Komei Juku Shibucho institution.
In Indonesia, the use of dangerous weapons, such as firearms, is tightly regulated: Only adults who have been trained to use the sharp samurai sword can obtain a license from the police.
To the three young students, Sekiguchi said: "You have to be trained with discipline and must not be arrogant. The samurai isn't there to hurt other people but to protect the weak. And always make sure you care about peace."
He learned these lessons during his own training: "Because of my arrogance, my hands and my feet were cut by the sword when I was training. That was a worthy lesson."
Sekiguchi started learning iaijutsu in high school. Before that, he studied goju ryu karate, kendo, kobudo and yawara. He is now soke (head) of the 21st Hayashizaki generation.
Iaijutsu differs from kendo or wushu: Iaijutsu is a source of samurai knowledge that teaches the practitioner how to handle the sword with fast actions and supple movements.
Iaijutsu was developed by Hayashizaki Jinsuke Shigenobu. It comes from the Japanese word "i", which means "become" or "sit". For its practitioners, iaijutsu is considered the art of living in harmony.
"I live only for the samurai sword. This has been bushido (the noble way) for me," Sekiguchi told The Jakarta Post.
The samurai believe Japan was created by the sword: A sword was dipped into the sea, and when it was raised, the drops of seawater that fell from it were transformed into the archipelago now known as Japan.
So when Japan embraced a policy of modernization, many attitudes were colored by the turbulent events driven by samurai.
One of these issues was raised by John Logan, who wrote the book adapted for the screen as The Last Samurai, which told the story of the struggle between Katsumoto (Ken Watanabe) and Captain Nathan Algren (Tom Cruise), the American commander who became a turncoat.
Katsumoto went to war against Japanese troops who had been influenced by the United States, to defend the way of the samurai and reject Western modernization.
Sekiguchi, however, gives a different interpretation of the meaning of the modern samurai struggle, which created a new image of the samurai in Japan.
"The samurai should not be in the service of an employer. He is a servant for world peace."
Sekiguchi laments that Japanese youth have forgotten the way of the samurai and prefer to wear Western dress rather than to dress like a samurai. But he hasn't chosen to combat this trend by raising arms as in the heroic story of The Last Samurai.
Sekiguchi finds it difficult to hide his sorrow at the erosion of samurai culture, which includes the disappearance of the ritual known as genpuku. This is an initiation ceremony for 13-year-old boys, who receive a wakizashi -- an adult name to become a samurai.
In response to these changes, Sekiguchi sought to influence the Japanese education curriculum to preserve the samurai culture for future generations. His efforts have been rewarded: The Japanese government now plans to include samurai lessons among its extracurricular activities at junior high and high schools.
"I'm not the only person who cares about the samurai. But I teach the younger generation to always remember the moral code that has underpinned Japan's rise from the destruction that followed the Hiroshima and Nagasaki bombs," he said.
Sekiguchi, who is also the president of the International Iaijutsu Association and president of the Japanese Association of Classical Martial Art Iaido, has visited 50 countries across Asia and Europe to teach iaijutsu to hundreds of students.
"Iaijutsu has taught me about respect, beauty and individual spirit. I have found freedom and peace through appreciating people as individuals, and other people," he said.
"Iaijutsu teaches us that though we differ one from another, we should not use those differences to build nationalism."
Sekiguchi told a story about one of his students called Jim, an American soldier who had fought in the Middle East.
While the war raged, Jim's emotions also raged: He couldn't stand to see the misery of the victims of the war. He longed for a peaceful life. To cure his anguish, he trained some people, including the children of Iraq war victims, in iaijutsu.
Besides training them in how to use the sword, Jim also taught the ideology of peace through iaijutsu.
"He keeps sending me letters which express the hope that peace can be created there. He is still training children who are victims in Iraq."
But Sekiguchi had little to say about the conflict in the Middle East, commenting only that it was political.
His single message is a simple one: "The wealth of a nation isn't measured by the quantity of its natural resources. If a nation wants to be rich, it should measure the worth of its moral values."
Posted by David Indra Harsaputra at 8:05 PM 1 comments
Labels: My Life
PAMERAN FOTO DUA TAHUN LUMPUR PANAS
Pers release
Memperingati dua tahun lumpur panas di Porong Sidoarjo 29 Mei, Trisnadi Marjan pewarta foto Kantor Berita Amerika Associated Press menggelar Pameran Foto yang bertajuk Dua Tahun Penderitaan Korban Lumpur Panas di Perpustakaan Kota Malang, Jl. Simpang Lima Malang, 31 Mei sampai 6 Juni 2008.
Foto yang akan dipamerkan itu diambil sejak awal semburan, 29 Mei 2006 lalu hingga puncak peringatan dua tahun lumpur panas dengan acara istiqosah korban lumpur panas di tanggul penahan lumpur panas.
Jumlah karya seluruhnya berjumlah sekitar 40 karya foto, tiga diantaranya berukuran 180 cm x 1 meter. Foto ini dianggap oleh Trisnadi yang terbaik diantara karya yang lain. Ketiga foto tersebut menggambarkan dua orang ibu korban lumpur panas yang menangis dengan mulut yang ditutup oleh plester bertuliskan "Lapindo Menipu", gambar mesjid yang tenggelam dan aktifitas di pusat semburan lumpur panas.
Sedangkan sisa karya lainnya, dicetak dengan ukuran 30 cm x 40 cm. Sebagian besar karya banyak menceritakan bagaimana penderitaan serta perjuangan hidup korban lumpur panas dalam menuntut hak-haknya sebagai korban.
Beberapa karya lainnya bercerita tentang ide pemikiran dari seorang ahli dari Institut Tehnologi 10 November Surabaya, Ir. Djaja Laksana dengan bendungan bernoulli.
"Saya mengambil foto pose ahli tersebut dengan lukisan bendungan bernoulli karena ia
merupakan warga Jawa Timur yang aktif dengan pemikiran tehnologinya untuk mengatasi semburan lumpur panas yang membuat kerugian material dan immaterial bagi warga Jawa Timur, " kata Trisnadi.
"Ia ilmuwan murni yang bekerja demi kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi tanpa
kepentingan politis, " katanya.
Kejujuran dan kepolosan Djaja seorang ilmuwan dan ahli itulah yang membuat Trisnadi
mengabadikannya sebagai "men of the year".
Sebagian besar hasil penjualan foto dalam pameran foto itu akan disumbangkan kepada
anak-anak korban lumpur panas di pengungsian Pasar Baru Porong Sidoarjo.
Demikian semoga bisa bermanfaat. Terima kasih sebesar-besarnya.
Contack Person
Trisnadi Marjan
081 - 331990 770 / 031-71 990 770
Tuesday, May 27, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 11:29 PM 0 comments
Labels: advetorial
Usaha Sampoerna Memberdayakan Masyarakat
Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna tidak hanya mendidik serta mendorong semangat usaha secara mandiri, tetapi juga mampu mengubah perilaku positif usahawan yang menjadi binaannya.
PPK Sampoerna yang didirikan diatas lahan seluas kurang lebih 10 Hektar di desa Gunting Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan Jawa Timur tersebut merupakan salah satu program Corporate Social Responbility (CSR) dari PT HM Sampoerna Tbk. 
Empat tahun lalu, Kaiman (48) salah satu warga desa Bulukandang Kecamatan Prigen Pasuruan hanyalah seorang sopir angkutan umum dengan penghasilan tidak kurang dari Rp 600 ribu per bulannya. Namun kini, nasibnya telah berubah. Penghasilannya saat ini lebih dari Rp 10 juta per bulannya.
"Saya telah memiliki rumah dan mobil pribadi untuk usaha. Keluarga saya kini jauh lebih sejahtera dibandingkan dengan sebelumnya, " katanya kepada The Jakarta Post.
Kaiman mengaku kunci suksesnya tidak lain karena kuatnya keinginan untuk merubah nasib hidupnya.
Sekitar akhir tahun 2004 lalu, Kaiman mengikuti sebuah training kewirausahaan yang diadakan oleh Sampoerna di lokasi PPK yang hanya berjarak tidak kurang dari 10 kilometer dari desanya. Ia ikut kegiatan itu karena Sampoerna tidak memungut biaya kepada pesertanya.
Program yang diadakan selama dua hari itu, Kaiman banyak berdiskusi dengan trainer Sampoerna tentang cara memulai usaha baru. Ia pun mengusulkan puluhan ide rencana usaha yang akan dikerjakanya, tetapi hanya satu ide saja yang menurut trainer itu possible untuk dikerjakan di desa tempat Kaiman tinggal.
Di desa tempat tinggal Kaiman yang berpenduduk 3.983 jiwa itu banyak dijumpai unit industri pemotongan kayu gergajian. Sisa kayu gergajian tersebut ternyata bisa diolah kembali menjadi salah satu media perkembangbiakan budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus).
Kaiman pun mengikuti program tambahan budidaya jamur Tiram di Sampoerna. Ia mulai belajar membuat media tanam hingga proses pengembangbiakan jamur tersebut.
Akhirnya, awal tahun 2005, ia menyatakan berhenti dari pekerjaan lamanya dan memilih berkonsentrasi sebagai petani jamur tiram. Sampoerna pun membantu dalam segi permodalan, namun bukanlah berbentuk cash money melainkan berupa penyediaan bibit serta ratusan media tanam bagi jamur tiram.
"Saat itu saya hanya berpikir bahwa usaha jamur tiram harus berhasil karena tidak ada lagi pekerjaan lain yang saya punya. Siang dan malam saya mencoba dan terus mencoba, " katanya.
Selain membantu segi permodalan, Sampoerna juga menyediakan seorang pendamping yang membantu Kaiman menjalankan usahanya.
Usaha yang digeluti Kaiman benar-benar fantastis karena hanya berselang waktu enam bulan saja budidaya jamurnya telah berkembang. Kegemilangan usaha Kaiman pun akhirnya diadopsi oleh tetangga sekelilingnya.
Saat ini telah ada 30 orang yang berusaha di bidang yang sama. Seluruh usahawan itu pun kemudian dikumpulkan dalam satu kelompok usaha budidaya dan Kaiman didapuk menjadi koordinator kelompok itu. 
Dalam kelompok jamur itu, seluruh usahawan secara rutin mengadakan pertemuan. Sampoerna terus melakukan pendampingan di kelompok itu. Selain pendampingan strategi marketing, seorang pendamping pun juga banyak memberikan konsultasi tentang masalah-masalah non bisnis.
"Selain usaha maju, saya juga telah berhenti dari kegemaran berjudi. Dulu memang desa ini terkenal dengan sebutan desa narapidana karena banyak penduduk desa yang tertanggap polisi karena tindakan kriminal dan perjudian, " katanya.
Kaiman mengatakan dari 12 karyawan yang bekerja di tempatnya, mayoritas merupakan bekas narapidana yang baru keluar dari penjara. Ketika ia kembali di desanya, Kaiman memperkerjakan mereka agar bisa mendapatkan penghasilan dan tidak lagi mencuri kendaraan bermotor hanya karena tidak bisa membeli makanan.
Kaiman berharap karyawan yang bekerja di tempatnya itu bisa membuka usaha serupa di lain tempat setelah mendapatkan pengetahuan tentang budidaya jamur darinya.
Boediono (43) juga merupakan petani jamur tiram binaan Sampoerna. Sebelum bertani, lelaki yang tinggal di desa Pendem Kota Batu Malang dulunya merupakan pengangguran. 
Sama halnya dengan Kaiman, saat ini Boediono bersama dengan sembilan orang pengangguran lainnya di desanya juga berhasil membudidayakan jamur tiram setelah mengikuti training di PPK Sampoerna. Usaha Boediono dan rekan-rekannya itu bernama kelompok petani Maligus,--singkatan dari Makarti Amrih Lilaning Gusti yang artinya bekerja dengan senantiasa berdoa kepada Allah.
Usaha Boediono ini dikelola secara kelompok yang memulai usahanya sejak bulan November 2007. Mulai saat dibentuk hingga saat ini, dari penjualan media tanam, jamur mentah hingga jamur olahan, kelompok usaha ini telah memperoleh keuntungan Rp 40 juta.
"Keuntungan itu belum termasuk keuntungan yang telah dibagikan kepada sembilan anggota kelompok yang per bulannya mendapatkan Rp 1 juta per bulannya, " katanya.
Manager Community Development PT HM Sampoerna Tbk, Yustinus Harisetiawan mengatakan dari 700 kelompok usaha binaan Sampoerna yang tersebar di Jawa Timur memang tidak semua berhasil seperti yang dilakukan oleh kelompok Kaiman dan Boediono.
"Kami hanyalah berperan sebagai fasilitator dan keberhasilan terletak dari usaha masing-masing individu. Namun dalam program Comdev ini, perubahan perilaku masyarakat yang menjadi ukuran dari keberhasilan sebuah program, " katanya.
Saat ini Sampoerna, kata Yustinus, juga mencoba mengubah perilaku petani padi dengan System of Rice Intensification (SRI), sebuah tehnik budidaya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi hingga 100 persen dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, air, tanah dan unsur hara. 
Metode SRI yang pertama kalinya ditemukan tahun 1983 di Madagascar oleh biarawan Yesuit asal Perancis FR Henri de Laulani tersebut terbukti mampu menghemat air untuk kepeluan irigasi dan ramah lingkungan karena menggunakan pupuk organik.
"Saat ini telah membina puluhan petani di Pasuruan untuk menerapkan metode itu. Kami melakukan training di PPK secara rutin, seperti dengan cara budidaya padi hingga pembuatan pupuk organik ramah lingkungan, " katanya.
Beberapa fasilitas yang ada di PPK Sampoerna itu meliputi Areal Pertanian Terpadu yang terdiri dari unit kandang sapi berkapasitas 12 ekor, unit kandang kambing berkapasitas 20 ekor, unit pembuatan pupuk organik dengan mesin pembuat kompos hingga bokasi dan silase, enam petak kolam ikan, lahan hortikultura seluas 4 hektar dari jenis tanaman sayur hingga tanaman hias, unit rumah kaca, dan unit pengolahan pangan dan hasil pertanian.
Selain itu, di PPK juga terdapat bengkel otomotif, dua ruang pelatihan berkapasitas 40 orang, Unit bisnis kecil dan pengembangan pasar, perpustakaan, asrama, pendopo dan fasilitas pendukung lainnya. (INDRA HARSAPUTRA)
Saturday, May 17, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 8:38 PM 0 comments
Labels: Indonesian Version

