Tato melambangkan sebuah kehidupan baik dan buruk. Di salah satu sisi kalangan profesional mencoba merubah image tato yang lekat dengan dunia kriminalitas, prostitusi dan narkoba. Namun di sisi lain, kaum preman dan pelaku prostitusi mempertahankan kekuasaannya melalui simbol tato. 
Awal Mei lalu, tepatnya di Tunjungan Plaza Surabaya digelar Festival Tato. Meskipun 'pesta' yang diadakan oleh komunitas tato untuk para penggemar tato ini bukanlah yang pertama diselenggarakan, namun acara kali ini jauh lebih banyak menyedot animo masyarakat. Selain menyuguhkan adegan atraktif penuh tantangan, dimana tubuh kekar Libhed Ronald Kayado (33), owner The Big Bodyguard ditato oleh 15 seniman tato dalam waktu yang bersamaan. Pihak penyelenggara juga memberikan potongan hingga 50 persen harga tato yang biasanya dipatok seharga Rp 250 ribu sampai Rp 3 juta. 
"Selain penggemar tato lama, juga banyak penggemar tato baru yang ingin tubuhnya di tato secara permanen, " kata Ketua Komunitas Tato di Surabaya, Yoshua Jimmy kepada The Jakarta Post.
Ia mengatakan dalam festival kali ini, jumlah pemesan tato rata-rata berjumlah 20 orang dalam sehari. Ini jauh berbeda dengan festival tahun lalu, paling banyak 10 orang per harinya. 
"Tato semakin banyak digemari. Bahkan ternyata hampir 70 persen pemesan tato itu berasal dari kaum perempuan, " kata Ketua Komunitas Tato di Surabaya, Yoshua Jimmy kepada The Jakarta Post.
Siskalia (19), salah satu perempuan yang bekerja sebagai frontliner dealer Telkomsel, misalnya, ia bukanlah penggemar baru seni tato. Ia ikut larut dalam antrian pemesan. 
"Anda boleh memotret tato di bagian dada saya, tetapi tolong jangan perlihatkan muka saya, " katanya.
Siska,--demikian panggilan akrabnya--, mengaku tato bisa menambah keindahan bagi tubuhnya. Ia merasa lebih seksi dengan tato bergambar motif bunga.
Selain di bagian dada, Siska yang mengaku menggemari tato sejak berusia 16 tahun itu, juga mempunyai tato di bagian lengan tangan kanan, punggung dan bagian pangkal paha.
"Anda boleh memotret tato di bagian dada saya, tetapi tolong jangan perlihatkan muka saya, " katanya.
Siska,--demikian panggilan akrabnya--, mengaku tato bisa menambah keindahan bagi tubuhnya. Ia merasa lebih seksi dengan tato bergambar motif bunga.
Selain di bagian dada, Siska yang mengaku menggemari tato sejak berusia 16 tahun itu, juga mempunyai tato di bagian lengan tangan kanan, punggung dan bagian pangkal paha. 
Tidaklah mudah bagi Siska untuk menyakinkan keluarganya untuk menerima tato sebagai bagian dari gaya hidup. Orang tuanya sempat protes keras terhadapnya, namun dengan pendekatan yang intens saat ini kedua orang tuanya menyetujui tato-tato Siska dengan catatan tidak diperlihatkan di depan umum. 
"Anda tahu kan, image perempuan bertato itu lekat dengan dunia prostitusi dan narkoba, " katanya.
Diakui atau tidak, demikian pandangan sebagian orang Indonesia terhadap tato. Padahal image tersebut tidaklah benar seratus persen, sebab tidak semua Pekerja Seks Komersial (PSK) di Surabaya itu bertato.
Juga tidak dapat dipungkiri beberapa diantara mereka memang bertato.
"Bagi saya, tato merupakan alat memunculkan gairah seksual. Banyak pelanggan saya yang suka dengan tato ini, " kata Erni, salah satu PSK yang sering mangkal di salah satu hotel berbintang di Surabaya. 
Erni yang masih tercatat berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya itu mengaku mempunyai dua tato di bagian payudaranya dan pangkal paha.
Untuk menghindari miss image itu, banyak perempuan serta orang tua yang memilih menghindari tato. Antok (44), misalnya, wartawan senior sebuah harian di Jakarta yang tangan kanannya bertato sejak remaja tegas melarang putrinya untuk ditato.
"Indonesia berbeda dengan di Eropa atau Amerika. Di sini nilai dan norma masih dipegang teguh oleh masyarakat. Saya tidak mau justru anak perempuan saya dikucilkan dari masyarakat, " kata Antok.
Sebagian besar artis juga menganggap seni tato menjadi salah satu bagian dari ekspresi diri. Artis perempuan mancanegara seperti Pamela Anderson sering memamerkan tato dalam setiap pose seksinya di media massa. Meskipun saat ini, Pamela berusaha menghilangkan seluruh tato di tubuhnya karena tato di atas kulit keriput tuanya membuat ia tidak lagi percaya diri. Gara-gara tato itu pula Pamela tertular hepatitis C saat membuat tato bersama mantan suaminya Tommy Lee.
Di Indonesia, sebagian artis perempuan juga bertato, namun memilih menghindari gaya Pamela yang gemar berpose dengan tubuh bertato itu. Sebut saja Ayu Azhari, Becky Tumewu, Karenina, Cut Keke yang lebih banyak menutup tato di tubuhnya. 
Selain karena pencitraan yang salah di mata masyarakat, tato dipandang sebagian kaum agamis bertentangan dengan nilai-nilai agama. Pandangan ini pun juga berlaku di di negara Saudi Arabia yang saat ini sebagian kaum muda di negara kaya minyak itu gemar akan tato.
Islam dan Nasrani menyatakan tato itu haram hukumnya.
Dalam fatwa Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-'Abbad dalam Pelajaran Sunan Abi Dawud Kitab Az-Zinah, Bab La’nul wasyimah wal mustausyimah, 8/572 menyebutkan Tato itu haram dan bertambah keharamannya ketika seseorang menggambar sesuatu yang haram seperti hewan-hewan. 
"Barangsiapa melakukannya lalu tahu hukumnya hendaknya beristighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan jika bisa menghilangkannya tanpa menimbulkan mudarat maka semestinya itu dihilangkan, " demikian bunyi fatwa itu.
Dalam surat An-Nisa 119 juga menyebutkan ".........aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.”
Makna mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menurut seorang tabi’in Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu dalam Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, 4/285, Tafsir Ibnu Katsir, 1/569 adalah dengan mentato tubuh.
Sedangkan dalam ajaran Nasrani disebutkan dalam Imamat 19 : 28, "Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN” 
Selanjutnya disebut pula “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31).
Pemimpin Vihara Berkah Utama Surabaya, Bhikkhu Teja Punno Thera mengatakan dalam ajaran Buddha, tidak pernah melarang maupun menganjurkan mentato tubuh. Memang, banyak Bhikkhu di Thailand yang bertato, namun mereka mentato tubuh mereka jauh sebelum mereka menjadi bhikkhu.
"Tato bukanlah sebagai fashion di sana. Dalam masyarakat di Thailand memang percaya tato bisa mengusir roh jahat, " katanya kepada The Jakarta Post.
Meskipun tegas diharamkan, toh tetap saja perempuan penggemar tato di Indonesia tetap banyak, tidak sebatas umur dan salah satu profesi aja.
"Tato merupakan keindahan, dan bagi saya hubungan dengan Tuhan merupakan tanggung jawab pribadi saya dengan Sang Pencipta. Sama halnya dengan pertanyaan apakah semua perempuan berjilbab nantinya dapat masuk surga?", kata Merry, salah satu manager keuangan di perusahaan kontraktor di Surabaya yang di beberapa bagian tubuhnya telah ditato.
Pria lebih Terbuka
Dibandingkan dengan perempuan, lelaki lebih leluasa dengan tatonya. Ini karena tubuh lelaki tidak seperti tubuh perempuan yang dipandang kaum agamais memeliki aurat yang tidak boleh diperlihatkan. 
Arief Julianto (38), petugas security Sahid Hotel Surabaya mungkin salah satu atau bahkan satu-satunya petugas keamanan di Surabaya yang selalu menampakkan tatonya ketika bertugas.
Dua tato, di bagian kaki dan punggung tertutupi pakaian dinasnya, tetapi tato di bagian tangannya tidak bisa Arief sembunyikan dari penglihatan orang.
"Tato ini bukanlah untuk memamerkan keperkasaan ataupun kegarangan seorang petugas keamanan, melainkan ini menjadi bagian dari aksesori fashion layaknya sebuah perhiasan, " kata Arief sambil memamerkan tindik di bagian lidahnya.
Arief yang mentato bagian punggungnya saat ia duduk di bangku SMA di seniman tato Surabaya tahun sekitar 1990 dan bagian kaki kiri sehari sebelum Bom Bali II tahun 2005 pada seniman tato Bali itu mengaku pimpinan tempat ia bekerja tidak mempermasalahkan jika ia menampakkan tatonya ketika bekerja. 
"Memang dulunya pimpinan saya itu gerah dengan tato milik saya dan ia menanyakan alasan tato ini. Tetapi saya berhasil menyakinkannya bahwa kualitas seseorang bukanlah dilihat dari tato melainkan otaknya, " katanya.
Arief teringat peristiwa kelam dunia tato, di tahun 1980-an saat terjadi peristiwa pembunuhan misterius terhadap ribuan orang gali (penjahat kambuhan) di berbagai kota di Indonesia. Mereka yang menjadi korban petrus mayoritas memiliki tato.
Soeharto (mantan presiden) dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (PT. Citra Lamtorogung Persada, Jakarta, 1989), mengatakan bahwa petrus (penembakan misterius) itu memang sengaja dilakukan sebagai treatment, tindakan tegas terhadap orang-orang jahat yang suka mengganggu ketentraman masyarakat.
"Saya tidak dapat memungkiri bahwa sampai saat ini banyak pelaku kriminal yang bertato. Tetapi saya bukanlah pelaku kriminal. Saya hanya ingin orang melihat bahwa tato tidak selamanya milik orang jahat, " katanya. 
Beberapa mantan narapidana menuturkan sebagian besar pelaku kriminal kambuhan atau sering keluar masuk penjara itu bertato. Bagi mereka tato merupakan simbol atau tanda dari kelompok mereka. Sebuah kelompok itu bisa saja terbentuk di dalam penjara, dan sebagai tanda 'peresmian' akan kelompok itu, mereka yang menjadi anggota ditato secara bergantian di dalam sel penjara.
Beberapa sumber di kepolisian juga mengatakan tato bisa digunakan polisi untuk mengindentifikasi seseorang yang menjadi pelaku kriminalitas atau korban pembunuhan. Polisi juga mempunyai daftar kelompok tertentu dengan gambar tato yang khusus pula.
Kelompok musik pendatang baru, Blingsatan yang terdiri dari tiga personil laki-laki yang dalam album kedua mereka banyak menonjolkan berbagai ragam bentuk seni tato. Mereka secara terang-terangan mempromosikan tato sebagai gaya hidup anak band yang cinta damai dan jauh dari tindakan kriminalitas.
Begitu pula dengan rocker, vokalis grup musik Boomerang Roy Jeconiah selalu menunjukkan tatonya dalam setiap konser musiknya menunjukkan identitas bahwa tato juga milik penggemar musik rock yang jauh dari dunia narkoba.
Beberapa penelitian psikologi tentang fenomena tato menyebutkan bahwa pengguna tato dengan konsep diri negative mempunyai sikap sangat peka terhadap kritik, mudah tersinggung, mudah marah, cenderung mencela, mengeluh atau meremehkan apapun dan siapapun, hiperkritis, pesimistik, dan sulit bergaul dengan orang lain karena ia menganggap orang lain itu musuh yang tidak bisa menerima dirinya.
Sedangkan pengguna tato dengan konsep diri positif mempunyai sikap mencoba mengatasi masalah dengan tato yang ada di tubuhnya, merasa setara dengan anggota masyarakat yang lain karena tato di tubuhnya bukanlah alasan merasa diri lebih rendah dari anggota masyarakat yang lain, dan mampu menghargai perbedaan. (Naskah dan foto by Indra Harsaputra)
Goresan Hitam dan Putih Tato (ist)
Thursday, May 15, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 7:32 PM 3 comments
Labels: Indonesian Version
Gaji Kecil, Waspada Tumor Otak
Bekerja merupakan hal yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Beberapa mendapatkan gaji yang cukup dan sesuai untuk mencukupi kebutuhan hidup. Bagaimana bila tidak cukup?
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Michigan, AS, ada kaitan antara sedikitnya uang yang didapat dengan risiko terkena tumor otak. Jadi Anda yang bergaji rendah harus lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan kalau tidak mau terkena tumor otak.
Penelitian yangg dipimpin oleh dr Paula Sherwood ini dilakukan terhadap mereka yang terdiagnosa tumor otak di Michigan pada 1996-1997. Selain itu juga terhadap orang-orang yang berusia antara 25-84 tahun.
Hasilnya, sebanyak 8,1% dari 100.000 orang menderita tumor otak. Penelitian ini dimuat dalam Jurnal Neurologi, baru-baru ini.
Laki-laki yang menerima tunjangan kesehatan rakyat miskin dan berusia di bawah 44, berisiko terkena tumor otak empat kali lebih besar ketimbang mereka yang berusia sama dari kalangan berada.
Sedangkan perempuan penerima tunjangan kesehatan di bawah usia 44 berisiko kanker otak dua kali lebih tinggi dibanding yang tidak menerima tunjangan sama.
"Kemiskinan dapat mempercepat terjangkitnya tumor otak di antara mereka yang berisiko secara biologis," dr Sherwood memaparkan kesimpulannya.
Berbagai studi menunjukkan bahwa risiko kanker otak kemungkinan terkait dengan peningkatan pendapatan pada mereka yang hidupnya berada.
Tumor otak merupakan penyakit yang paling ditakuti manusia, sebab otak merupakan organ yang sangat penting bagi kehidupan. Faktanya, manusia berbeda dari makhluk hidup lain karena fungsi otaknya.
Hingga kini, tumor otak merupakan jenis penyakit yang belum dapat diatasi sepenuhnya oleh ilmu pengetahuan kedokteran, terutama bila jenisnya ganas.
Namun demikian, diagnosis tumor otak tidak selalu berarti vonis kematian bagi penderitanya. Teknik diagnosa dan pengobatan dalam ilmu kedokteran akan terus berkembang serta disempurnakan. Maka harapan para penderitanya pun semakin meningkat. (AP/Beritajatim.com)
Saturday, May 10, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 4:43 AM 0 comments
Labels: Indonesian Version
Semangat Kerja Tunanetra Mengais Rejeki
Meskipun telah beberapa kali menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja, Yadi Hermayadi (35), penyandang cacat tunanetra tidak pernah berputus asa untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Saat ini, Yadi warga Kampung Taraju Kabupaten Tasikmalaya bekerja di Surabaya sebagai penjual aksesori perlengkapan wanita keliling. Ia tinggal di kontrakan rumah petak di kawasan Pasar Turi Surabaya bersama beberapa rekannya, kedua anak dan istrinya yang tidak bekerja ditinggalkannya di kampung halaman.
"Sudah dua bulan saya tidak bertemu dengan keluarga saya. Penjualan lagi sepi sehingga saya belum punya biaya untuk pulang ke kampung halaman, " katanya kepada The Jakarta Post.
Hari itu, 'dewi fortuna' belumlah memihak Yadi. Dari pagi hingga siang hari belum satupun dagangan itu laku terjual. Padahal ia telah berjalan kurang lebih 20 kilometer sambil membawa beban dagangannya sekitar 10 kilogrammenyusuri kota Surabaya yang tengah disengat panasnya terik mentari.
Namun, ia masih saja bersyukur karena siang itu ia bisa membeli nasi bungkus setelah tiga hari lamanya ia tidak makan. Penghasilannya memang telah dikirimkan ke keluarganya melalui jasa pos dan giro.
"Sudah tiga hari saya hanya makan buah nangka yang belum matang yang saya petik dari pekarangan rumah milik salah satu warga di daerah Surabaya, " katanya sambil melahap nasi bungkus di pinggir jalan depan Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur di Jl Ahmad Yadi Surabaya.
Sekitar tahun 1995-an, Yadi pernah bekerja di salah satu perusahaan sepatu nasional di Tangerang sebagai cleaning service dengan upah sebesar Rp 500 ribu per bulan. Namun ia di PHK lantaran krisis keuangan di perusahaan itu. Tahun 1998, ia diterima di industri sepatu di Cibaduyut Bandung Jawa Barat. Di perusahaan ini ia mengalami nasib serupa.
Setelah tidak mempunyai pekerjaan tetap, ia mencoba menjadi pemulung barang bekas sambil mencoba melamar pekerjaan di perusahaan lain. Mata sebelah kanan yang buta akibat kesalahan medis waktu kecil menjadi kendala utama mencari pekerjaan.
"Saya sempat beberapa kali ditolak bekerja di beberapa perusahaan karena kondisi tubuh dan tidak mempunyai ijasah sekolah dasar. Saya pernah berpikir menjadi tenaga kerja Indonesia di negara asing, tetapi saya tidak punya modal, " katanya.
Yadi memang tidak pernah sampai lulus Sekolah Dasar. Kondisi perekonomian keluarga dan juga kondisi fisik tubuhnya menjadi alasan utamanya.
Sampai akhirnya, sekitar tahun 2000-an, ia pun diajak oleh salah satu rekan untuk menjual perlengkapan aksesori wanita seperti jepit rambut, ikat rambut dan lain-lain di Surabaya.
Dalam sebulan, Yadi biasanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per bulan. Uang ini didapatkannya dari komisi dari total penjualan yang diberikan oleh makelar pemilik modal usaha beserta dengan peralatan penjualan.
"Tetapi khusus bulan ini penghasilan saya hanya Rp 200 ribu karena memang penjualannya sepi, " katanya.
Untuk menambah penghasilan, Yadi pun menjadi pemulung barang bekas. Pekerjaan ini dilakukannya sambil berjualan. Pendapatannya sebagai pemulung rata-rata hanya Rp 100 ribu per bulannya.
Setelah menghabiskan makanan bungkus, ia pun bergegas pergi sambil membawa dagangannya.
"Maaf, saya harus bekerja lagi demi anak dan istri saya. Doakan saja nasib ini berubah, " katanya. (INDRA HARSAPUTRA)
Wednesday, April 30, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 11:30 PM 1 comments
Labels: Indonesian Version
Orang Miskin Minum Air Tercemar
Masyarakat miskin di perkotaan terpaksa mengkonsumsi air tercemar karena kesulitan mendapatkan air bersih. Penderitaan mereka itu terus berlanjut sampai tahun 2025 ketika Surabaya diprediksikan akan mengalami defisit air bersih.
Jadi orang miskin di Indonesia benar-benar ngenes !
Mahmud (40), tinggal di rumah semi permanen bantaran sungai Kali Surabaya bersama istri dan dua orang anaknya selama puluhan tahun lamanya. Ia bukanlah penduduk asli Surabaya, melainkan seorang pendatang dari desa yang tinggal tanpa identitas kependudukan resmi.
Pekerjaannya pun tidaklah tetap. Kadangkala ia bekerja sebagai pemulung sampah, bahkan sesekali ia menjadi kuli bangunan. Penghasilannya pun hanya Rp 10.000,- per harinya. Sedangkan istrinya tidak bekerja.
Di Surabaya, ia sangat bergantung pada air sungai Kali Surabaya, yang akhir-akhir ini mendapatkan perhatian dari semua pihak setelah Majelis Ulama Indonesia (MUI) berencana mengeluarkan fatwa haram mengkonsumsi Kali Surabaya lantaran telah tercemar, baik itu limbah industri, rumah tangga, maupun bangkai sisa satwa peliharaan.
Kali Surabaya merupakan sungai lintas Kota /kabupaten yang melalui wilayah 4 kota/kabupaten Mojokerto, Sidoarjo, Gresik dan Surabaya. Sungai sepanjang kurang lebih 41 Km ini memiliki 3 anak sungai, Kali Marmoyo, Kali Tengah dan Kali Pelayaran. Kali Surabaya memiliki peran penting bagi Surabaya karena 95% bahan baku PDAM Kota Surabaya diambil dari Kali Surabaya
Berdasarkan Kajian Menteri Pekerjaan umum dan Perum Jasa Tirta pada tahun 1999 Surabaya dalam River Pollution Control Action Plan Study menunjukkan Selain limbah industri Kali Surabaya harus menampung beban pencemaran domestik di sepanjang kali Surabaya sebesar 75,5 ton/hari, dengan rincian Mojokerto 14,84 ton/hari, Sidoarjo 26,00 ton/hari, Gresik 0,93 ton/hari dan Surabaya 33,73 ton/hari.
Akibat adanya limbah itu, beberapa riset menyimpulkan bahwa Kali Surabaya sudah tercemar E-Coli. Salah satunya, penelitian Kementrian Lingkungan Hidup tentang pemantauan Terpadu Kualitas Air Sungai di Jawa Timur 2005 menunjukkan bahwa Bakteri E-Coli di dua daerah sepanjang Kali Surabaya (Karang Pilang dan Ngagel/jagir mencapai 64000 sel bakteri/100 ml , sedangkan di intake Kali Pelayaran E-Coli di air mencapai 20000 sel bakteri/100 ml).
Sedangkan peneliti salah satu NGO Lingkungan, Dhani Arnanta menunjukkan bahwa kandungan e coli di badan air Kali Surabaya sebanyak 11. milyar – 1600. milyar sel bakteri/100 ml contoh air.
Padahal sebagai bahan baku air minum jumlah E-Coli dalam air tidak boleh melebihi 1000 sel bakteri/100 ml contoh air menurut PP 82/2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.
Tingginya tingkat pencemaran di Kali Surabaya memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas kesehatan masyarakat yang tinggal di sepanjang Bantaran Kali Mas, Data RSUD Dr Soetomo menyebutkan 2-4% penduduk yang terdiri dari anak-anak (0 – 18 tahun) mengidap kanker, 59% adalah kanker leukimia, Neuroblastoma (Kanker syaraf), Limfoma (Kanker kelenjar getah Bening), dan Tumor Wilms (Kanker ginjal).
Tetapi, Mahmud tidak peduli dengan semua itu. Di sungai inilah, Mahmud tidak hanya mandi, melainkan air sungai juga dipakai untuk memasak dan minum.
"Biarpun tercemar saya tetap akan tinggal disini. Kalau saya beli air bersih seharga Rp 5 ribu per hari saya tidak mampu karena penghasilan yang minim, " katanya.
Mahmud, bukanlah satu-satunya warga miskin di Surabaya yang sulit mendapatkan air bersih karena kondisi ekonomi. Ada ratusan warga miskin lainnya yang belum mendapatkan air bersih juga masalah serupa.
Di Jawa Timur, berdasarkan data Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006, menyatakan hanya 2,6 persen dari jumlah penduduk sebesar 29,2 juta jiwa yang memperoleh air bersih dari jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Dari jumlah tersebut, air bersih hanya didapatkan oleh mayoritas warga di perkotaan seperti Malang, Surabaya Sidoarjo, Mojokerto dan beberapa lainnya. Meskipun demikian, bukan berarti semua warga yang tinggal di perkotaan mendapatkan air bersih.
Sedangkan khusus di daerah yang tidak terjangkau layanan PDAM itu, seperti di Blitar, Ngawi, Gresik, Kediri, Kabupaten Malang dan beberapa daerah lainnya, masyarakat mendapatkan air bersih dari sumur galian, air sungai dan mata air.
Di daerah tertentu, misalnya di Kecamatan Kedung Kandang Kabupaten Malang, sebelum dibangun sumur air oleh Institut Tehnologi 10 November Surabaya (ITS), warga harus mengeluarkan uang untuk membeli air bersih dengan harga Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per bulannya.
Warga di Kedung Kandang itu tidak mendapatkan air bersih selama bertahun-tahun karena ketidakmampuan tehnis untuk melakukan pengeboran sumur. Namun setelah dibangun instalasi air sumur oleh ITS tahun 2007, kini warga bisa mendapatkan air bersih dengan harga yang lebih murah, yaitu Rp 20 ribu per bulannya.
Demikian pula di beberapa tempat lainnya, seperti di Kecamatan Nglegok Blitar, ratusan penduduk di beberapa desa areal perkebunan tersebut juga telah menikmati air bersih dengan biaya murah setelah dibangun sarana air sumur. Sebelumnya warga di wilayah tersebut harus berjalan ratusan kilometer untuk mendapatkan air bersih.
Berdasarkan data dari PDAM, pada tahun 2005, dengan jumlah penduduk di Surabaya sebesar lebih dari 2,6 juta jiwa, rasio cakupan pelayanan air bersih mencapai 68 persen. Itu atinya sisa rasio penduduk, hingga saat ini belumlah mendapatkan pelayanan air bersih.
Ada beberapa faktor yang membuat mereka belum terlayani memperoleh air bersih PDAM. Selain karena faktor tidak sebandingnya jumlah pertambahan penduduk, baik itu karena tingginya angka kelahiran dan urbanisasi, dengan jumlah sarana dan prasarana penyaluran air minum, misalnya pipanisasi.
Ketidakmampuan warga miskin untuk membeli air bersih juga menjadi penyebab utama. Faktor lain yang juga dominan adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan lingkungan yang sehat.
Kepala Unit Pengkajian Pengembangan Potensi Daerah ITS Surabaya, Agnes Tuti Rumiati mengatakan berdasarkan survei pihak yang belum terlayani air bersih itu memang mayoritas berasal dari masyarakat miskin yang tidak mampu membayar biaya pemasangan air bersih dan biaya bulanan berlangganan.
Masyarakat miskin di perkotaan, kata Agnes, harus membayar harga yang mahal untuk mendapatkan air bersih dibandingkan dengan warga lainnya.
"Dengan pendapatan yang tidak menentu, mereka memilih mengeluarkan uang Rp 5000,- per hari untuk membeli air, daripada berlangganan air bersih dari PDAM yang tarifnya Rp 100.000,- per bulan, " katanya kepada The Jakarta Post.
Untuk meringankan beban masyarakat miskin memperoleh air bersih, World Bank memberikan bantuan kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan air bersih dengan biaya murah.
Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Delta Tirta Sidoarjo, Abdul Basit Lao mengatakan untuk tahap awal bantuan itu akan diberikan kepada 200 warga miskin di kelurahan Lemah Putro Sidoarjo.
"Warga miskin di tempat itu akan hanya membayar tarif untuk air bersih sebesar Rp 25 ribu atau lebih murah dibandingkan dengan tarif normal sebesar Rp 100 ribu per bulannya, " katanya.
Tarif baru PDAM bagi masyarakat miskin itu, kata Abdul, merupakan kerjasama antara World Bank dengan PDAM, dimana World Bank menyiapkan jaringan pipa dan segala infrastruktur sedangkan PDAM yang mensuplai air bersih tersebut.
Anggota Badan Pendukung Pengembangan Sistem Air Minum Departemen Pekerjaan Umum Budi Sutjahjo mengatakan untuk di daerah pedesaan, pemerintah pada tahun 2009 mentargetkan akan menambah jaringan pipanisasi air minum, sehingga 27,3 juta jiwa masyarakat di pedesaan di Indonesia dapat memperoleh air bersih. Sampai saat ini, hanya 7 juta jiwa saja masyarakat di desa yang telah menikmati air bersih.
Selain itu, pemerintah juga akan menambah jumlah pemakai di perkotaan yang saat ini mencapai 38,7 juta jiwa menjadi 45,8 juta jiwa pada tahun 2009. Sehingga secara nasional pada tahun 2009, sekitar 73,5 juta jiwa dapat memperoleh layanan air bersih.
Akan tetapi muncul tantangan baru dimana tahun 2025 mendatang, seiring dengan pesatnya laju pertambahan penduduk di Surabaya warga miskin semakin sulit mendapatkan air minum. Mereka akan kembali minum air beracun seperti yang dilakukannya saat ini.
Mengapa ?
Perum Jasa Tirta memprediksi pada tahun 2025, Surabaya akan mengalami defisit air bersih. Itu artinya, beban masyarakat miskin untuk memperoleh air bersih akan semakin mahal.
Pada tahun tersebut, dimana laju pertambahan penduduk di ketiga daerah tersebut akan bertambah menjadi lebih dari 3,04 juta jiwa dari 2,6 juta jiwa, kebutuhan air bersih mencapai 47,05 meter kubik per detik. Padahal ketersediaan air bersih hanya mencapai 39,62 meter kubik per detik.
Dengan demikian di tahun itu akan terjadi defisit air bersih sebesar 7,43 meter kubik per detik. Sampai tahun 2010, dengan ketersediaan air 39,62 meter kubik per detik, kebutuhan air bersih di Surabaya dan sekitarnya mencapai 35,41 meter kubik per detik.
Itu pun belum lagi ditambah deretan panjang kasus pencemaran sungai di Indonesia, yang menurut data dari Departemen Pekerjaan Umum, 76,2 persen dari 52 sungai di Jawa, Sumatera, Bali dan Sulawesi telah tercemar. 11 sungai diantaranya tercemar berat.
Direktur Ecoton, salah satu NGO Lingkungan Hidup, Prigi Arisandi mengatakan selain masalah penegakan hukum terhadap kasus pencemaran sungai, juga diperlukan dukungan dari semua pihak, khususnya MUI untuk memberikan fatwa haram terhadap konsumsi air sungai yang tercemar.
"Fatwa itu merupakan bentuk dukungan moral untuk mengubah kebiasaan dan menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya sungai sebagai sumber kehidupan, " katanya.
Sementara itu, pengamat sanitasi dan air bersih ITS Surabaya Eddy Soedjono mengatakan pihak PDAM perlu melakukan perbaikan manajemen, khsususnya soal pengelolaan air bersih kepada masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik maka tingkat kebocoran pipa yang mencapai 40 persen dapat ditekan. Selain itu, masalah pencurian air juga harus menjadi perhatian.
"Seharusnya dengan kapasitas PDAM di Surabaya sebesar 7.820 liter per detik bisa mencukupi 2,6 juta penduduk di Surabaya. Bila dihitung maka rata-rata setiap penduduk bisa menikmati 255 liter per hari, " katanya.
Sebagai perbandingan dengan Amerika Serikat (AS), negara tropis lembab dengan kebiasaan belum tentu mandi dua kali saja konsumsi air bersih penduduknya sekitar 450liter per hari. Sedangkan di Surabaya, dengan konsumsi yang lebih kecil dibandingkan dengan AS harus dipakai mandi terkadang lebih dari 3 kali sehari. (INDRA HARSAPUTRA/The Jakarta Post)
Tuesday, April 22, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 9:13 PM 1 comments
Labels: Indonesian Version
Masker Korban Mudflow


Petugas medis memeriksa kondisi kesehatan warga desa Siring Barat Kecamatan Porong Sidoarjo yang banyak mengeluhkan gangguan pernafasan pasca keluarnya semburan gas metana dipemukiman penduduk sebagai dampak langsung dari semburan lumpur panas di Porong Sidoarjo, Senin (14/4). Selain karena gas metana, menurut tim medis, masyarakat yang mengalami gangguan pernafasan juga karena debu sehingga warga disarankan menggunakan masker. (INDRA HARSAPUTRA)
Sunday, April 13, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 10:51 PM 0 comments
Labels: Photos
Say Love With Flowers





Selain aktif menjadi jurnalis, penulis juga menggemari jenis tanaman hias Euforbia. Tanaman ini menjadi pengusir stress, penggali inspirasi sambil mendatangkan uang. Satu harga tanaman ini dijual dengan harga Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu per batang. (Foto-Foto : Indra Harsaputra)
Posted by David Indra Harsaputra at 10:19 PM 1 comments
Labels: Photos
"Sang Terpilih" keturunan Guangdong

Indra Harsaputra
The Jakarta Post/Surabaya
Tam Chen Siong (36), warga keturunan Tionghoa yang juga dikenal bernama Kanjeng Raden Tumenggung Hartonodiningrat bukan saja berhasil melestarikan keris sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia milik bangsa Indonesia, tetapi juga berhasil menyakinkan keluarganya akan pentingnya pekerjaan yang digelutinya.
Tam Chen Siong dilahirkan di keluarga seorang pengusaha forwading di Surabaya. Tam Hwa Seng dan Phun Djoei Hing, ayah dan ibu Tam Chen Siong mengharapkan agar anak kedua dari dua bersaudara bisa meneruskan usaha ekspedisi forwarding (pengangkutan barang dan peti kemas) yang dirintis oleh keluarganya selama bertahun-tahun.
Paling tidak, jika keinginan yang satu itu meleset, kedua orang tuanya bercita-cita agar kelak Tam Chen Siong bisa menjadi seperti kekeknya yang arsitektur dan pernah mengerjakan sejumlah proyek di Surabaya, seperti jembatan, Taman Makam Pahlawan serta perabot di kantor Walikota.
Tanpa diduga oleh kedua orang tuanya yang berdarah asal Guangdong China Tam Chen Siong yang lulusan Tehnik Mesin Universitas Kristen Petra Surabaya tahun 1992 itu memilih berprofesi sebagai seorang empu keris.
Sedangkan kakaknya, perempuannya, Tam Li Li juga memilih bekerja sebagai apoteker ketimbang menjadi pengusaha seperti orang tuanya.
"Awalnya, keluarga sangat menentang profesi saya itu karena pekerjaan itu tidak bisa mendatangkan uang banyak. Mereka selalu berkata masa depan saya akan suram, " katanya kepada The Jakarta Post.
Tam Chen Siong memang dikenal terampil membuat senjata tajam. Sejak berumur 10 tahun, Tam Chen Siong yang lahir dan tumbuh besar di Surabaya telah akrab dengan senjata tajam. Di umur yang masih anak-anak itu, ia sudah pandai membuat pisau baja dengan peralatan bengkel, yang biasanya digunakan untuk memperbaiki atau men-service kendaraan roda empat milik usaha angkutan Tam Hwa Seng, ayahnya.
Keris, dikenal Tam Chen Siong dari sesepuh empu asal Surabaya, Kanjeng Raden Haryo Tumenggung Sukoyo Hadinagoro. Ia merupakan mantan pegawai Bank Indonesia yang minta pensiun dini untuk mendalami ilmu keris. Saat ini, ia telah mendidik puluhan murid hingga menjadi empu.
Melalui salah satu rekan ayah, Tam Chen Siong dikenalkan kepada Sukoyo. Sejak itulah ia langsung tertarik dengan keris. Namun, ketertarikannya bukan berarti ia diterima sebagai murid oleh Sukoyo. Sebab, menurut gurunya itu, pekerjaan seorang empu itu sulit dan lebih dikarenakan oleh panggilan alam, layaknya seorang biarawan gereja Katolik ataupun biksu.
"Setiap pulang kuliah, saya datang ke rumah Sukoyo untuk melihat cara membuat keris. Saya tidak pernah absen untuk menunggu Sukoyo menerpa keris. Saya sampai lupa makan dan minum," katanya.
Berkat kegigihannya yang kuat untuk mempelajari keris, akhirnya Sukoyo menerima Tam Chen Siong sebagai muridnya. Ia tidak hanya belajar membuat keris saja, tetapi juga ikut dalam ritual seperti lazimnya dilakukan oleh empu.
Keseriusan Tam Chen Siong belajar keris kembali diuji. Sebab ia harus menjalani sejumlah tantangan menjadi seorang empu yang berat. Ia harus diuji kesabaran dan ketelatenan dalam menempa keris agar mempunyai nilai seni. Berkali-kali ia gagal membuat keris seperti yang diajarkan oleh gurunya.
Namun, ia pantang menyerah.
Tantangan lainnya, ia harus menjalani puasa dan menjalani pantangan khusus bagi seorang empu, yaitu dilarang mengkonsumsi makanan yang tidak segar (tersimpan sehari).
"Waktu itu saya hampir putus asa. Saya tidak kuat menjalani semua itu, namun akhirnya atas dorongan kuat dari Sukoyo, saya pun berhasil menjalani semua tantangan itu, " katanya.
Tam Chen Siong pun telah bisa membuat keris, tidak hanya pandai membuat lekuk dan aksesori keris, tetapi ia pun menjiwai dalam membuat keris.
"Banyak orang yang salah menilai keris, namun bagi saya keris itu merupakan senjata unik. Ia bukanlah dibuat untuk membunuh orang, tetapi ia bisa membunuh, " katanya.
Tam Chen Siong pun berniat memperdalam ilmunya di Solo. Pada tahun 1998, ia memutuskan untuk berguru di beberapa empu senior seperti Empu Subandi, Empu Daliman, Empu Suyanto dan Empu Pausan. Di tahun yang sama pula ia bertemu dengan almarhum Sinuhun PB XII.
Hingga akhirnya, tiga tahun kemudian, Tam Chen Siong pun diangkat resmi menjadi abdi dalem keraton Solo dengan gelar Raden Tumenggung. Saat pengangkatannya itu sempat terjadi kontraversi di kalangan keraton Solo, sebab saat diangkat usia belum mencapai 40 tahun.
"Jadi saat diangkat, saya merupakan satu-satunya empu termuda di Indonesia dari kerajaan keraton Solo. Saya sangat salut terhadap Sinuhun karena etnis keturunan Tionghoa bisa diterima dengan baik olehnya, " katanya.
Ini membuktikan bahwa keris bukan saja menjadi bagian masyarakat Jawa, melainkan juga dapat dipelajari dan dimiliki oleh siapa saja, termasuk etnis non pribumi.
"Bahkan, sebelum beliau mangkat, gelar saya dinaikkan menjadi Kanjeng Raden Tumenggung. Saat itu saya berjanji di dalam hati akan terus melestarikan keris sebagai budaya bangsa Indonesia, " katanya.
Kiprah Tam Chen Siong tidak hanya membuat keris dan mengenalkannya kepada generasi muda melalui pertukaran ketrampilan dengan mahasiswa di Universitas Petra Surabaya. Ia bersama dengan para empu lainnya pernah terlibat 'Perang' dengan Malaysia dan Singapura yang ingin mengklaim bahwa keris menjadi milik negara tersebut.
Begini ceritanya, sekitar tahun 2006, beberapa seniman asal Malaysia dan Singapura berlomba-lomba datang ke Indonesia untuk mengumpulkan data soal perkerisan.
"Saya tahu bahwa kedatangan mereka itu bukanlah bermaksud baik, mereka hendak mencuri data untuk memperkuat klaimmya bahwa keris bukanlah dari Indonesia melainkan dari khasanah budaya kedua negara, " katanya.
Ia bersama dengan beberapa empu lainnya pun marah dengan cara yang dilakukan oleh negara tetangga yang berusaha mencuri warisan budaya Indonesia. Saat itu, Tam Chen Siong bersama dengan seniman keris lainnya meminta agar pemerintah mempertahankan seni budaya keris Indonesia.
"Beruntunglah akhirnya Unesco memutuskan bahwa keris merupakan milik bangsa Indonesia. Saat itulah saya bersama dengan seniman lainnya mendeklarasikan Sekertariat Nasional Perkerisan Indonesia sebagai wadah para empu untuk berjuang melestarikan keris Indonesia, " katanya.
25 Desember 2006, keris masuk ke dalam satu dari tujuh keajaiban dunia. Maret 2007, di Yogyakarta Tam Chen Siong bersama dengan empu lainnya mendeklarasikan Sekertariat Nasional Perkerisan Indonesia, sebagai wadah organisasi empu dan pecinta keris di Indonesia.
Perjuangan Tam Chen Siong mempertahankan keris sebagai milik Indonesia itulah membuat kedua orang tuanya terenyuh. Mereka pun bangga dengan apa yang dikerjakan Tam Chen Siong.
"Kesempatan itulah membuat saya kembali menyakinkan kepada keluarga bahwa pekerjaan seorang empu bukanlah pekerjaan yang sia-sia, " katanya.
Keluarga pun akhirnya menerima alasan Tam Chen Siong, bahkan kini mereka pun mendukung pekerjaannya.
"Bagi saya pekerjaan ini sangat unik. Saya bangga bisa belajar banyak tradisi budaya Indonesia yang nyaris punah sekaligus mempelajari spiritual Jawa yang sangat menarik dan sarat filosofis, " katanya.
"Di sini saya telah menemukan kebahagiaan, ketentraman dan penghasilan yang cukup bagus, " katanya.
Keris buatan Tam Chen Siong dijual dengan harga Rp 2,5 juta sampai ratusan juta rupiah. Beberapa pejabat dan tokoh di Indonesia, antara lain mantan Wakil Presiden Hamzah Haz dan mantan Kapolda Bali I Made Mangku Pastika pernah membeli keris buatan Tam Chen Siong sebagai pemberi kewibawaan.
Sunday, April 6, 2008 | Posted by David Indra Harsaputra at 6:56 AM 4 comments
Labels: My Life

